KOLAKA — Organisasi Masyarakat Adat Ana Wonua Sangia (AWS) memulai babak kepengurusan baru dengan menetapkan Eman Eriksan Koluhu sebagai Ketua Umum untuk masa bakti 2026–2027. Langkah ini diambil sebagai respons atas kebutuhan mendesak untuk menjaga eksistensi budaya Tolaki yang mulai tergerus perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya di hadapan pengurus dan kader, Eman menegaskan bahwa AWS dibentuk bukan sekadar sebagai organisasi sosial, melainkan garda terdepan untuk merawat nilai-nilai adat. "Dasarnya organisasi ini dibentuk semata-mata untuk melestarikan budaya. Karena itu saya mengajak seluruh kader Ana Wonua Sangia menanamkan rasa cinta terhadap budaya kita, menjaga budaya Tolaki agar tetap eksis, baik di Sulawesi Tenggara maupun di seluruh Nusantara," ujarnya, Kamis (6/8/2026).
Kepengurusan baru tidak hanya berhenti pada seremoni. Sejumlah program kerja kongkret telah disepakati untuk dijalankan selama dua tahun ke depan. Fokus utamanya adalah membangun infrastruktur budaya dan regenerasi kader.
Untuk memastikan roda organisasi berjalan optimal, struktur kepengurusan inti periode 2026–2027 juga diumumkan. Posisi Wakil Ketua Umum dipercayakan kepada Liko Aswandi, dengan Asjun, S.A.P. sebagai Sekretaris Umum. Jabatan Bendahara Umum diisi oleh Syahrir Sahaka dan Jumain.
Dewan Penasehat organisasi turut diperkuat oleh sejumlah tokoh, yaitu Darmin T., Ilyas Pikal, dan Jumawar. Kepengurusan ini nantinya akan dilengkapi dengan sejumlah bidang sesuai kebutuhan organisasi guna mendukung pelaksanaan program kerja dan pengembangan Ana Wonua Sangia ke depan.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru ini, Ana Wonua Sangia diharapkan mampu memperkuat peran generasi muda dalam mempertahankan nilai-nilai adat di Sulawesi Tenggara. Keberadaan sanggar seni menjadi kunci agar transfer pengetahuan dari tetua adat kepada generasi berikutnya tidak terputus.
Pelatihan Mombesara dan Silat Tolaki Kondau dipilih karena dua elemen ini dinilai sebagai identitas utama masyarakat Tolaki yang paling rentan punah. Melalui pendidikan non-formal ini, kader diharapkan tidak hanya hafal teori, tetapi juga mahir mempraktikkan langsung di tengah masyarakat.