SULAWESI TENGGARA — Acara yang digelar di kantor Xiaomi Indonesia pada 8 Agustus 2026 ini sengaja dibagi ke dalam beberapa zona untuk mensimulasikan penggunaan nyata. Pendekatan ini berbeda dari peluncuran produk pada umumnya yang hanya berfokus pada spesifikasi perangkat keras. Di sini, TV S Mini LED 65 inci menjadi pusat hiburan ruang keluarga, terhubung dengan mesin kopi kapsul Mijia dan Smart Air Purifier Max dalam satu skenario yang saling melengkapi.
Konsep yang mereka tawarkan sederhana: satu aplikasi, satu ekosistem. Semua perangkat, mulai dari penyaring udara hingga mesin kopi, dikendalikan dari satu titik. Ini bukan sekadar gimmick, melainkan arah pengembangan produk Xiaomi ke depan.
Di area ruang kerja, fokus demonstrasi bergeser pada produktivitas. Xiaomi memperagakan fitur Xiaomi Cast yang memungkinkan tablet ditembakkan ke layar TV untuk tampilan lebih luas. Ini berguna untuk presentasi atau sekadar menonton konten bersama.
Aplikasi Xiaomi Home juga didemonstrasikan sebagai pusat kendali. Dari satu aplikasi, pengunjung bisa memantau kamera CCTV, mengatur kecepatan air purifier, hingga memerintahkan robot vakum untuk mulai bekerja. Semua perintah hanya butuh beberapa ketukan di layar ponsel.
Xiaomi juga memperlihatkan fungsi estetika TV melalui mode art installation. Layar bisa menampilkan karya seni atau foto keluarga, mengubah TV menjadi elemen dekoratif ruangan saat tidak digunakan untuk menonton. Ini menjawab keberatan sebagian orang yang menganggap TV besar merusak estetika ruangan.
Sesi ditutup dengan area gaming menggunakan TV S Mini LED 85 inci. Dukungan refresh rate hingga 288 Hz dalam Game Boost Mode jelas menyasar para gamer yang butuh responsivitas tinggi. Angka ini jauh di atas standar TV konvensional yang biasanya 60 Hz atau 120 Hz.
Meski ekosistemnya tampak rapi, ada beberapa catatan. Pertama, untuk menikmati semua konektivitas ini, pengguna harus membeli perangkat dalam ekosistem Xiaomi. Kalau sudah punya perangkat smart home dari merek lain, integrasi mungkin tidak semulus ini.
Kedua, sesi preview ini baru menunjukkan koneksi antarperangkat dalam kondisi ideal. Belum ada pengujian jangka panjang soal stabilitas koneksi saat banyak perangkat terhubung bersamaan, atau seberapa cepat respons aplikasi Xiaomi Home saat jaringan rumah sedang sibuk.
Ketiga, harga menjadi pertimbangan. Membangun ekosistem dari nol berarti mengeluarkan biaya besar di awal, karena harus membeli beberapa perangkat sekaligus untuk merasakan manfaat konektivitasnya. Ini bukan pembelian impulsif, tapi investasi bertahap.
Yang jelas, Xiaomi tidak lagi menjual TV sebagai produk tunggal. Mereka menjual paket gaya hidup terintegrasi. Pertanyaannya, apakah konsumen Indonesia siap pindah ke satu ekosistem penuh? Jawabannya tergantung seberapa besar kebutuhan akan kemudahan dan seberapa dalam kantong untuk memulainya.