SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Senin (12/8), volume impor garam pada 2025 mengalami kontraksi 2,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) dari 2,75 juta ton pada 2024. Tren penurunan ini berlanjut pada sisi nilai, di mana belanja impor garam menyusut dari US$125,89 juta menjadi US$117,14 juta.
Australia tetap menjadi mitra dagang utama dengan pangsa pasar yang sangat dominan. Dari total 2,67 juta ton garam yang masuk ke pelabuhan Indonesia, sebanyak 2,01 juta ton berasal dari negeri Kanguru tersebut.
Fluktuasi nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp 16.897 per dolar AS (kurs tengah) turut mempengaruhi nilai impor dalam mata uang lokal. Meski volume turun tipis, efisiensi belanja impor terlihat dari penurunan nilai yang lebih dalam, yakni 6,95%.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong peningkatan produksi garam nasional. Namun, realisasi produksi garam rakyat masih kerap terkendala cuaca dan keterbatasan lahan, sehingga impor tetap menjadi instrumen penting untuk memenuhi kebutuhan industri.
Bagi pelaku usaha yang bergantung pada pasokan garam impor, stabilitas hubungan dagang dengan Australia menjadi faktor kunci dalam perencanaan produksi. Sementara itu, pengusaha garam lokal melihat data ini sebagai pengingat bahwa substitusi impor masih membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan.