SULAWESI TENGGARA — Perusahaan rintisan penyimpanan energi asal Amerika Serikat, Form Energy, mengumumkan pendanaan Seri G senilai USD 750 juta atau sekitar Rp 12,3 triliun pada Rabu (18/6). Dana segar ini akan digunakan untuk memperluas kapasitas manufaktur pabrik mereka di West Virginia, merespons permintaan pasar yang melonjak empat kali lipat sejak awal tahun.
Kabar ini menjadi sinyal kuat bahwa ledakan pembangunan data center kecerdasan buatan (AI) tengah mendorong investasi besar-besaran di sektor penyimpanan energi. Di Amerika Serikat, pemasangan sistem penyimpanan energi baru mencapai 9,7 gigawatt-jam (GWh) pada kuartal pertama tahun ini, tumbuh 32 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Berbeda dari baterai lithium-ion yang umumnya hanya mampu bertahan beberapa jam, baterai besi-udara buatan Form Energy dirancang untuk menyuplai daya hingga 100 jam penuh. Durasi panjang ini dinilai krusial untuk menjembatani celah pasokan listrik dari pembangkit energi terbarukan, yang tahun ini diproyeksikan menyumbang lebih dari 90 persen kapasitas pembangkit baru di AS.
Keunggulan utama baterai ini terletak pada materialnya. Form Energy mengandalkan besi sebagai bahan baku utama, menggantikan mineral mahal seperti lithium, kobalt, dan nikel. Prinsip kerjanya cukup sederhana: besi berubah menjadi karat saat baterai melepaskan daya, dan prosesnya dibalik saat pengisian daya. Pendekatan ini memungkinkan penyimpanan listrik dalam kapasitas raksasa dengan biaya yang jauh lebih rendah.
Teknologi ini berhasil menarik minat sejumlah perusahaan teknologi besar. Google dikabarkan membangun data center baru di Minnesota yang sebagian pasokan listriknya akan memanfaatkan baterai Form Energy berkapasitas 30 GWh, dengan nilai investasi sekitar USD 1 miliar (Rp 16,5 triliun).
Sementara itu, perusahaan komputasi cloud Crusoe telah menandatangani kesepakatan pembelian 12 GWh baterai pada bulan Maret lalu. Utility Xcel Energy dan FuturEnergy Ireland juga tercatat sebagai pelanggan Form Energy.
Saat ini, Form Energy memiliki proyek komersial dengan total kapasitas mencapai 80 GWh, meningkat empat kali lipat dibanding awal tahun ini. Lonjakan permintaan ini sejalan dengan proyeksi konsumsi listrik data center di AS yang diperkirakan akan berlipat empat pada 2035, menyerap sekitar 20 persen total listrik nasional.
Salah satu faktor kunci yang membuat Form Energy diminati adalah rantai pasoknya yang tidak bergantung pada China. Sekitar 80 persen material baterai berasal dari dalam negeri AS, sisanya dari Eropa dan Asia. Ini menjadi nilai jual tersendiri di tengah upaya pemerintahan AS yang beruntun untuk mengurangi ketergantungan pada dominasi China di industri baterai.
Putaran pendanaan Seri G ini dipimpin oleh T. Rowe Price, dengan partisipasi investor besar seperti Sequoia Capital, Franklin Templeton, TPG Rise Climate, Breakthrough Energy Ventures, dan Coatue. Nama Dustin Moskovitz, salah satu pendiri Facebook, juga tercatat sebagai investor melalui entitasnya bersama Cari Tuna.
Bagi pengamat industri, keberhasilan Form Energy mengumpulkan dana sebesar ini menegaskan bahwa baterai berdurasi panjang bukan lagi sekadar konsep, melainkan kebutuhan nyata di era ekonomi digital yang haus energi.