KENDARI — Bank Sultra tidak hanya berhenti pada penyaluran modal. Lembaga keuangan milik pemerintah daerah ini juga mendorong pendampingan usaha agar pelaku UMKM di Bumi Anoa bisa naik kelas. Pembinaan tersebut melibatkan pemerintah kabupaten/kota dan instansi terkait, mulai dari peningkatan kapasitas manajerial, literasi keuangan, hingga daya saing produk.
Direktur Utama Bank Sultra, Andri Permana Diputra Abubakar, menegaskan bahwa pihaknya berambisi menjadi penggerak utama perekonomian, bukan sekadar lembaga intermediasi keuangan.
"Kami tidak hanya sekadar hadir sebagai lembaga perbankan, melainkan kami berambisi penuh untuk menjadi motor penggerak utama perekonomian di Sulawesi Tenggara," ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Dukungan terhadap sektor pertanian juga menjadi perhatian serius. Hingga akhir Juli 2026, pembiayaan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) yang disalurkan Bank Sultra mencapai Rp 24,8 miliar. Dana tersebut dinikmati 51 debitur dan menyentuh delapan kabupaten/wilayah di Sulawesi Tenggara.
Pembiayaan ini diarahkan untuk modernisasi peralatan pertanian. Dengan begitu, para petani di daerah terpencil bisa menggarap lahan lebih efisien dan produktif.
Untuk mempercepat ekspansi kredit, Bank Sultra melakukan penguatan struktur organisasi. Jika sebelumnya pengelolaan perkreditan berada dalam satu divisi, kini dipecah menjadi tiga divisi utama: Divisi Kredit Konsumtif dan Mikro, Divisi Kredit Menengah Komersial Korporasi & Hubungan Kelembagaan, serta Divisi Operasional Kredit.
Pemisahan ini diharapkan membuat strategi penyaluran kredit lebih fokus dan terukur. Setiap divisi punya target segmen yang jelas, sehingga jangkauan ke berbagai sektor ekonomi di daerah bisa lebih luas.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap potensi ekonomi di Sultra, mulai dari pelaku UMKM hingga para petani, memiliki kesempatan untuk tumbuh, berkembang, dan berdaya saing bersama Bank Sultra," imbuh Andri.
Dengan total pembiayaan produktif yang mendekati Rp 1,4 triliun, Bank Sultra kian mempertegas posisinya sebagai bank pembangunan daerah. Langkah ini sekaligus menjawab kebutuhan pembiayaan di tingkat akar rumput yang selama ini kerap terkendala akses permodalan.