SULAWESI TENGGARA — Direktur Manajemen Risiko BRI, Ety Yuniarti, menyebut perseroan tetap memiliki keinginan untuk tumbuh dan menyalurkan kredit ke sektor produktif. Namun, setiap keputusan pembiayaan kini melewati proses asesmen yang lebih ketat, mulai dari profil risiko debitur, prospek usaha, hingga kondisi sektor industri yang dibiayai.
"BRI tetap memiliki appetite untuk tumbuh dan menyalurkan kredit kepada sektor produktif. Namun, pertumbuhan tersebut harus dilakukan secara terukur dengan tetap mengutamakan kualitas," ujar Ety dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (18/4).
Perbaikan kualitas aset BUMN ini tidak hanya terlihat dari rasio NPL. Indikator yang lebih melihat ke depan, yaitu rasio Loan at Risk (LaR), juga menunjukkan tren menggembirakan. Pada Maret 2026, rasio LaR turun signifikan dari 11,13 persen menjadi 9,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, atau terkoreksi 145 basis poin.
Untuk mengantisipasi potensi tekanan di masa mendatang, BRI juga menjaga kecukupan pencadangan. Rasio NPL Coverage berada di level 179,45 persen, sementara LaR Coverage tercatat 55,75 persen. Konsistensi dua rasio ini mencerminkan disiplin perseroan dalam mengelola risiko sejak dini.
Ety menjelaskan, pengelolaan risiko di BRI tidak berhenti setelah kredit cair. Perseroan melakukan pemantauan portofolio secara berkala dengan pendekatan berbasis data untuk mendeteksi perubahan kualitas debitur atau potensi tekanan pada sektor tertentu.
"Prinsip kami bukan sekadar bagaimana kredit dapat tumbuh, tetapi bagaimana kredit tersebut dapat tumbuh dengan kualitas yang terjaga. Karena itu, kami terus memperkuat proses dari hulu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus," lanjut Ety.
Pendekatan ini menjadi krusial karena portofolio BRI didominasi UMKM yang tersebar di seluruh Indonesia dengan karakteristik nasabah sangat beragam. Dengan basis data yang dimiliki, BRI terus meningkatkan kemampuan memahami profil risiko nasabah secara lebih granular.
Dalam menjalankan strategi pertumbuhan, BRI menerapkan pendekatan selektif dengan mempertimbangkan karakteristik risiko pada setiap segmen dan sektor ekonomi. Kebijakan perkreditan dan mekanisme monitoring portofolio terus disempurnakan agar tetap relevan terhadap perubahan kondisi ekonomi.
Langkah ini memungkinkan BRI menjaga keseimbangan antara peluang pertumbuhan dan tingkat risiko yang masih bisa diterima bank. Dengan fundamental yang kuat dan pencadangan yang memadai, perseroan optimistis ekspansi bisnis ke depan tetap berjalan sehat dan berkelanjutan di tengah dinamika perekonomian nasional.