Pengalaman menangani pemulihan pascabencana di Sulawesi Tenggara (Sultra) mendorong Helen Dias Andhini, Kepala Seksi Rehabilitasi Pascabencana BPBD Provinsi Sultra, meraih gelar Doktor Ilmu Manajemen dengan predikat Cumlaude dan IPK sempurna 4,00. Ia lulus dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (Unhas) hanya dalam waktu 2 tahun 2 hari, dengan disertasi yang menyoroti lemahnya integrasi kapasitas penanggulangan bencana di daerah.
MAKASSAR — Sebuah disertasi yang lahir dari praktik lapangan berhasil mengantarkan Helen Dias Andhini meraih gelar doktor dengan hasil memuaskan. Dalam Ujian Promosi Doktor di Universitas Hasanuddin, perempuan yang sehari-hari bertugas di BPBD Provinsi Sulawesi Tenggara ini mempertahankan disertasinya yang berjudul "Model Manajemen Krisis Strategis: Peran Mediasi Kesiapan Kelembagaan, Tata Kelola Kolaboratif, dan Pemulihan Pascabencana terhadap Ketahanan Berkelanjutan di Provinsi Sulawesi Tenggara."
Berbeda dari penelitian kebanyakan, disertasi Helen justru berangkat dari kegelisahan akademik yang ia temui langsung di lapangan. Menurutnya, persoalan penanggulangan bencana di Sultra tidak lagi semata-mata soal kurangnya regulasi, sumber daya, atau kelembagaan. Kapasitas-kapasitas dasar tersebut, kata dia, sebenarnya sudah tersedia.
"Kita sebenarnya memiliki banyak kapasitas, tetapi tantangannya adalah bagaimana kapasitas tersebut dapat terintegrasi dan bekerja secara optimal," ungkap Helen saat memaparkan hasil penelitiannya.
Ia menilai yang menjadi pekerjaan rumah adalah bagaimana seluruh elemen tersebut bisa disatukan menjadi satu sistem yang efektif. Mulai dari tahap kesiapsiagaan, koordinasi antar lembaga, penanganan krisis, hingga proses pemulihan pascabencana. Dari situlah ia membangun sebuah model yang menghubungkan strategi manajemen krisis, kesiapan kelembagaan, tata kelola kolaboratif, pemulihan pascabencana, hingga ketahanan berkelanjutan.
Melalui penelitiannya, Helen menegaskan bahwa makna pemulihan pascabencana tidak boleh dipersempit hanya pada perbaikan fisik. Ia menekankan bahwa pemulihan harus mampu mengembalikan fungsi kehidupan masyarakat secara lebih luas, baik di sektor pelayanan publik, sosial, ekonomi, kesehatan, maupun lingkungan.
"Prinsipnya bukan hanya kembali seperti sebelum bencana, tetapi bagaimana kita dapat pulih lebih baik dan tidak membangun kembali kerentanan yang sama," jelasnya.
Model yang ia hasilkan pun diterjemahkan dalam semangat "Siaga–Pulih–Tangguh". Konsep ini menggambarkan daerah yang tidak hanya siap menghadapi krisis, tetapi juga mampu beradaptasi dan bertransformasi untuk menghadapi risiko bencana berikutnya.
Selama menempuh pendidikan doktoral, Helen tidak hanya fokus pada disertasinya. Ia juga berhasil menghasilkan dua artikel ilmiah yang terbit di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus Q2 serta sebuah buku. Capaian ini melengkapi gelar doktornya yang diraih dalam waktu relatif singkat.
Ke depan, ia berharap hasil penelitiannya tidak berhenti sebagai karya akademik semata. "Gelar doktor membawa tanggung jawab yang lebih besar. Saya ingin hasil dari perjalanan akademik ini kembali kepada daerah dan masyarakat," ujarnya.
Helen optimistis model yang ia susun dapat diterapkan di Sulawesi Tenggara. Menurutnya, sebagian besar kapasitas dasar untuk menjalankan model tersebut telah tersedia, sehingga tidak perlu memulai dari nol. "Yang diperlukan adalah memperkuat dan mengintegrasikan sistem yang sudah ada sehingga seluruh unsur dapat bekerja bersama secara konsisten dan berkelanjutan," pungkasnya.
Ujian promosi doktor Helen dipimpin oleh Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., dengan tim penguji Prof. Dr. Abdul Razak Munir, S.E., M.Si., Prof. Dr. Arifuddin, S.E., M.Si., serta Drs. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D. sebagai penguji eksternal. Ia dibimbing oleh Prof. Dr. Abd. Rahman Kadir, S.E., M.Si. sebagai promotor dan Prof. Dr. Muhammad Yunus Amar, S.E., M.B.A. sebagai ko-promotor.