BOGOR — Guru Besar IPB University, Prof. Sofyan Sjaf, menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak bisa lagi bertumpu pada asumsi semata. Menurutnya, desa harus memiliki peta akurat mengenai kondisi warganya, potensi ekonomi, hingga kebutuhan pembangunannya sebelum menentukan arah kebijakan.
“Pembangunan desa tidak boleh dimulai hanya dari asumsi. Desa harus mengetahui kondisi warganya,” ujar Prof. Sofyan dalam Public Lecture bertema pembelajaran pembangunan perdesaan Tiongkok untuk pemberdayaan masyarakat di Desa Ciangsana, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan akademisi dari China Agricultural University (CAU), Prof. Tang Lixia, sebagai pembicara pendamping. Diskusi ini menjadi ajang transfer pengetahuan mengenai bagaimana Tiongkok membangun desa melalui pengembangan ekonomi lokal, teknologi, infrastruktur, hingga kelembagaan.
Prof. Sofyan mengingatkan bahwa mempelajari pengalaman negara lain tidak berarti menjiplak seluruh model pembangunannya. Setiap inovasi yang datang dari luar harus melalui proses adaptasi yang ketat dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat setempat.
“Belajar dari pengalaman negara lain bukan berarti menyalin model pembangunan mereka,” tegasnya. Ia menambahkan, proses adaptasi ini akan jauh lebih kuat jika desa memiliki basis data yang akurat sebagai acuan perencanaan.
Desa Ciangsana dinilai sudah selangkah lebih maju karena telah memiliki DDP hasil kerja sama dengan IPB University. Data ini tidak hanya berisi informasi spasial, tetapi juga memetakan potensi ekonomi, kelompok masyarakat, dan kebutuhan pembangunan secara presisi.
Menurut Prof. Sofyan, DDP yang dibangun melalui sensus, teknologi digital, dan partisipasi warga harus diterjemahkan menjadi rencana pembangunan yang konkret. Data yang akurat akan membantu pemerintah desa menentukan sektor prioritas dan kelompok sasaran yang paling membutuhkan intervensi.
“Ketika pengetahuan akademik bertemu pengetahuan lokal dan data presisi, peluang transformasi desa semakin besar,” jelasnya. Ia menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai mitra masyarakat dalam menyelesaikan persoalan desa, bukan sekadar menjadi penonton.
Pengalaman CAU dalam membangun perdesaan di Tiongkok diharapkan dapat memperkaya wawasan pengelolaan pembangunan di Ciangsana, khususnya dalam pengembangan usaha berbasis potensi wilayah.
Prof. Sofyan juga mengingatkan para perangkat desa dan akademisi yang hadir agar tidak terjebak pada ukuran pembangunan yang sempit. Kemajuan sebuah desa tidak cukup direpresentasikan oleh gedung megah atau jalan mulus semata.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar membangun desa yang terlihat maju secara fisik,” katanya. Ia menekankan bahwa pembangunan harus mampu meningkatkan kesejahteraan, membuka kesempatan ekonomi, dan memperkuat kapasitas sumber daya manusia.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu masuk kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah desa, masyarakat, IPB University, dan China Agricultural University. DDP yang dimiliki Ciangsana diharapkan menjadi pijakan untuk merancang inovasi pembangunan yang tepat sasaran dan berkelanjutan.