Proyek Baterai Nusantara: Indonesia-Malaysia Bangun Rantai Pasok EV ASEAN

Penulis: Udin Syamsul  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 10:33:31 WIB
Indonesia dan Malaysia menjalin kerja sama proyek Baterai Nusantara untuk membangun rantai pasok kendaraan listrik di ASEAN.

SULAWESI TENGGARA — Kerja sama ini diungkapkan Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, di Jakarta, Rabu (26/8). Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar produksi, melainkan pijakan strategis agar kawasan Asia Tenggara tidak bergantung pada negara lain dalam ekosistem kendaraan listrik.

"Indonesia memiliki potensi untuk berkontribusi dari sisi material baterai, khususnya pengembangan katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan untuk memproduksi sel baterai," kata Evvy.

Skema Produksi: Bahan Baku dari Indonesia, Sel Baterai Dibuat di Malaysia

Dalam proyek Baterai Nusantara, bahan baku yang diolah di Indonesia akan dikirim ke Malaysia untuk diproses menjadi sel baterai. Hasil inovasi ini sudah diperkenalkan secara resmi di Malaysia bersama kementerian terkait setempat.

"Kami lebih senang kalau kita juga bisa membuat sel baterai di sini," ujar Evvy menambahkan.

Target Besar: ASEAN Punya Baterai Sendiri

Potensi pasar kendaraan listrik yang besar di ASEAN menjadi alasan utama proyek ini digarap serius. Evvy menegaskan pentingnya kemandirian kawasan dalam hal teknologi baterai.

"Kita juga ingin mencoba bagaimana di ASEAN ini tidak tergantung juga. Jadi punya baterai ASEAN sendiri," jelasnya.

Meski begitu, penguatan kemampuan riset dan fasilitas produksi di masing-masing negara tetap menjadi syarat utama agar integrasi ini berjalan optimal.

Indonesia Butuh Pilot Plant untuk Jembatani Riset dan Produksi Massal

Salah satu kebutuhan paling mendesak bagi Indonesia adalah menghadirkan fasilitas pilot plant. Evvy menilai fasilitas uji coba ini berperan penting sebagai penghubung antara hasil riset material di laboratorium dengan tahapan produksi komersial berskala besar.

"Pilot itu kita tidak perlu langsung membuat gigawatt hour. Kita perlu bridging antara material ini ke sana," tuturnya.

Dengan adanya fasilitas pengujian tersebut, hasil riset bisa dikaji dalam skala lebih luas sebelum masuk ke tahap industrialisasi. Di saat yang sama, Indonesia dapat menyerap teknologi komersial dari mitra untuk dikembangkan kembali lewat riset dalam negeri.

Bukan Hanya Pemasok Bahan Baku

Pendekatan ini dinilai krusial agar Indonesia tidak berhenti sebagai penyedia bahan baku. Target jangka panjangnya, Tanah Air mampu memproduksi sel baterai kendaraan listrik secara mandiri.

Integrasi sumber daya, riset, dan pasar antarnegara diharapkan mampu mendorong ASEAN menjadi produsen teknologi baterai mandiri di masa depan. Proyek Baterai Nusantara adalah langkah awal dari ambisi besar tersebut.

Reporter: Udin Syamsul
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top