SULAWESI TENGGARA — Perjalanan darat dari Upper West Side, New York, menuju Princeton, New Jersey, biasanya hanya memakan waktu sekitar satu jam. Namun, kali ini berbeda. Ada misi tersembunyi di balik kemudi: menguji seberapa cerdas Google Maps versi AI dalam merancang itinerary sesuai permintaan putrinya yang ingin mampir ke Mi, sebuah destinasi yang belum sempat disebutkan gamblang di awal perjalanan.
Selama 18 tahun meninggalkan kampung halaman, penulis mengaku kota yang berdiri sejak sebelum Revolusi Amerika ini tetap berubah, meski perlahan. Toko lama tutup, tempat baru bermunculan. Di sinilah peran AI diuji: apakah ia mampu menjadi pemandu andal, atau justru mereduksi pengalaman menjelajah yang seharusnya penuh kejutan?
Ask Maps merupakan integrasi AI pertama dari jenisnya di Google Maps. Fitur ini memungkinkan pengguna bertanya dengan kalimat spesifik, seperti "Di mana saya bisa mengisi daya ponsel tanpa antre kopi panjang?" atau "Apakah ada lapangan tenis umum dengan lampu yang bisa saya mainkan malam ini?" Semua jawaban tersaji tanpa keluar dari aplikasi.
Kemudahan ini diakui Andrey Meshcheryakov, kepala praktik di Recombinators, firma konsultan manajemen. Menurutnya, Ask Maps "secara efektif mengurangi risiko pengalaman perjalanan dengan menghilangkan hambatan kesalahan manusia dan bahasa." Namun, ia menambahkan, "lompatan teknologi utopis ini memaksimalkan utilitas, tapi mengancam mesin kebetulan yang disediakan perjalanan tradisional."
Kekhawatiran senada datang dari akademisi. Seden Dogan, asisten profesor di University of South Florida School of Hospitality and Tourism Management, meneliti kemunculan AI dalam perjalanan. Ia menilai interaksi kecil seperti bertanya arah dulunya membawa kerentanan. "Interaksi itu memberi tekstur tertentu pada perjalanan yang tidak Anda rencanakan. Dengan AI, segalanya menjadi lebih mulus dan dapat diprediksi," ujarnya, mengutip pernyataan Jen Young dari Outdoorsy bahwa kita "menukar sedikit jiwa demi antarmuka yang lebih halus."
Penulis sendiri mengaku termasuk tipe pelancong yang lebih suka bertanya pada warga lokal. Pengalaman paling berkesan justru lahir dari intervensi manusia: pasangan muda di Tokyo yang rela mengantar keluarganya ke kafe babi yang sulit ditemukan, atau pemandu dadakan di Tangier. Momen-momen ini, menurut Vicente Abarca Del Rio dari Muletek, adalah esensi perjalanan. "Mengapa kita bepergian? Hanya untuk mengikuti garis kecil yang dilacak peta kita, tanpa peduli pada kehidupan yang terjadi di sekitar kita?"
Pertanyaan besarnya bukanlah apakah AI bisa memberikan rute terbaik. Melainkan apakah kita siap kehilangan sensasi tersesat yang justru memperkaya perjalanan. Ketidakpastian menempatkan kita dalam kondisi liminal, di mana kita bergantung pada kebaikan orang asing. Meski terasa canggung, momen itu menjadi kontras yang menyegarkan dari rute yang sudah ditentukan sebelumnya.
Dogan mengakui penemuan mungkin masih terjadi, tapi terasa semakin dikurasi. "Saya tidak akan mengatakan kita kehilangan keajaiban perjalanan, tapi kita pasti beralih dari momen organik yang digerakkan manusia ke momen yang lebih personal dan digerakkan algoritma."
Bagi penulis, uji coba ini menjadi refleksi: apakah ia akan membiarkan algoritma membawanya ke tempat-tempat yang sudah direkomendasikan banyak orang, atau tetap membuka ruang untuk kesalahan arah yang justru melahirkan cerita? Jawabannya mungkin menentukan masa depan cara kita menjelajah—apakah sebagai penonton dari layar, atau sebagai bagian dari ritme kota itu sendiri.