KENDARI — Gubernur Sulawesi Tenggara Mayjen TNI (Purn.) Andi Sumangerukka menyebut Gerakan Sultra Religius harus menjadi gerakan moral dan sosial yang tercermin dalam keseharian masyarakat, bukan sekadar pernyataan seremonial. Hal itu disampaikannya di hadapan jajaran pemerintah provinsi, insan pers, serta ribuan jamaah yang memadati halaman kantor gubernur pada Sabtu (29/8/2026).
Kegiatan yang mengusung tema "Merajut Jiwa Ukhuwah, Mengukuhkan Nasionalisme Menuju Sultra Maju, Aman, Sejahtera dan Religius" ini menghadirkan penceramah nasional Ustadz Dr. KH. Das'ad Latif, S.Sos., S.Ag., M.Si., Ph.D. Momen ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara pemerintah daerah dengan tokoh agama dan masyarakat.
Dalam sambutannya, Gubernur mengingatkan bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini merupakan anugerah Allah yang diraih melalui perjuangan panjang dan pengorbanan para pahlawan bangsa. Menurutnya, rasa syukur itu harus diwujudkan dalam aksi nyata, bukan hanya seremoni tahunan.
"Sudah sepatutnya kita selalu bersyukur dan menghormati jasa para pahlawan dengan mengisi kemerdekaan melalui upaya menjaga persatuan, menumbuhkan kepedulian, dan memberikan pengabdian terbaik dalam membangun bangsa dan daerah kita," ujar Gubernur.
Gubernur menilai pembangunan fisik dan pertumbuhan ekonomi di Sultra tidak akan bermakna tanpa diiringi pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak mulia. Ia menekankan pentingnya harmoni antara kemajuan material dan spiritual dalam membangun daerah.
"Gerakan Sultra Religius bukan sekadar pernyataan, tetapi harus menjadi gerakan moral dan gerakan sosial yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat," tegasnya.
Di tengah keberagaman agama, suku, budaya, dan tradisi di Sultra, Gubernur mengajak seluruh elemen untuk memelihara semangat persatuan. Perbedaan, kata dia, bukan alasan untuk saling menjauh melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
Ustadz Dr. KH. Das'ad Latif dalam tausiyahnya mengajak masyarakat mewujudkan kehidupan religius yang dimulai dari diri sendiri. Ia mengingatkan bahwa pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat hendaknya tidak dilakukan semata-mata karena kewajiban, tetapi diniatkan sebagai bentuk ibadah untuk memperoleh ridha Allah.
Pesan tersebut ditegaskan melalui firman Allah dalam Al-Qur'an, "Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil 'alamin" — yang bermakna seluruh ibadah, pengabdian, kehidupan, dan kematian hendaknya dipersembahkan kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Melalui kegiatan ini, semangat syukur atas kemerdekaan diharapkan dapat diwujudkan melalui penguatan nilai-nilai keagamaan, persatuan, kepedulian, dan pengabdian kepada masyarakat. Cita-cita mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius pun diharapkan dapat dicapai secara bersama-sama.