KENDARI — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Tenggara memasuki fase kritis. Data pemantauan satelit BMKG pada 30 Agustus 2026 mencatat 117 titik panas yang tersebar di sembilan kabupaten, dengan tingkat kepercayaan bervariasi dari rendah hingga tinggi.
Dari total titik panas tersebut, 105 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 10 titik berstatus rendah, dan dua titik masuk kategori kepercayaan tinggi. Konsentrasi terbanyak terdeteksi di Kabupaten Konawe dengan 42 titik, disusul Bombana 31 titik, dan Muna 12 titik.
Pemetaan BMKG yang berlaku per 1 September 2026 menunjukkan hampir seluruh daratan Sultra memiliki nilai FFMC di atas 82. Angka tersebut menempatkan wilayah-wilayah itu dalam klasifikasi sangat mudah terbakar—level tertinggi dalam skala risiko karhutla.
Hanya sebagian wilayah Kolaka dan Kolaka Utara yang memiliki tingkat kemudahan terbakar lebih rendah dibandingkan daerah lain. Adapun kawasan lain, termasuk kawasan perkotaan seperti Kendari dan Baubau, berada dalam kondisi yang sama-sama rawan.
Nilai FFMC yang tinggi menggambarkan kondisi material organik di lapisan permukaan tanah—seperti alang-alang, dedaunan kering, dan humus—berada dalam keadaan sangat kering. Kondisi ini membuat bahan bakar ringan tersebut lebih mudah tersulut dan api berpotensi merambat cepat.
BMKG menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit untuk mendeteksi anomali suhu permukaan sebagai indikasi titik panas. Meski begitu, tidak semua hotspot yang terpantau dipastikan merupakan kebakaran—pemantauan satelit memiliki keterbatasan, terutama saat wilayah tertutup awan atau berada di area blank zone.
Sementara itu, tujuh wilayah tidak mencatat titik panas sama sekali, yakni Kota Kendari, Baubau, Buton, Buton Tengah, Konawe Kepulauan, Kolaka Utara, dan Wakatobi.
Sebaran titik panas di luar Konawe masih cukup masif. Selain Bombana dan Muna, Konawe Selatan dan Konawe Utara masing-masing mencatat 10 titik, disusul Kolaka Timur empat titik, Kolaka tiga titik, Buton Selatan dan Buton Utara masing-masing dua titik, serta Muna Barat satu titik.
Dengan mayoritas wilayah berada dalam kondisi sangat mudah terbakar, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla. Aktivitas yang berpotensi memicu api—terutama membakar sampah dan membersihkan lahan dengan cara dibakar—sebaiknya dihindari karena vegetasi kering membuat api cepat meluas.
Laporan: Ika Astuti