KENDARI — Struktur ekspor Sulawesi Tenggara menunjukkan ketergantungan yang sangat tinggi pada sektor industri pengolahan, khususnya komoditas besi dan baja. Berdasarkan data BPS, sepanjang Januari hingga Juli 2026, sektor industri pengolahan menyumbang 99,84 persen dari total nilai ekspor Sultra. Angka ini mengindikasikan hampir tidak ada diversifikasi berarti dari sektor lain seperti perikanan atau pertanian.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengungkapkan bahwa secara kumulatif dalam tujuh bulan pertama tahun ini, komoditas besi dan baja memberikan kontribusi hingga 98,34 persen dari keseluruhan total ekspor Sultra.
“Jauh mengungguli komoditas ekspor lainnya seperti hasil perikanan dan pertanian,” pungkasnya di Kendari, baru-baru ini.
Kinerja ekspor pada Juli 2026 menjadi pendorong utama akumulasi tersebut. BPS mencatat nilai ekspor besi dan baja mencapai US$388,77 juta pada bulan itu, tumbuh signifikan 33,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Lonjakan ini memastikan laju pertumbuhan ekspor Sultra tetap berada di jalur positif hingga pertengahan tahun.
Meski Sultra dikenal memiliki potensi kelautan dan perkebunan yang besar, realisasi ekspor dari kedua sektor tersebut masih sangat timpang jika dibandingkan dengan industri pengolahan logam. Data BPS Sultra memperlihatkan bahwa selisih kontribusi antara komoditas besi-baja dengan hasil perikanan dan pertanian mencapai puluhan persen. Kondisi ini mencerminkan bagaimana aktivitas smelter dan industri hilir di kawasan industri Morowali dan sekitarnya mendominasi arus perdagangan internasional dari provinsi ini.
Masifnya nilai ekspor besi dan baja memang menguntungkan neraca perdagangan daerah, namun para pengamat ekonomi daerah kerap menyoroti perlunya hilirisasi di sektor lain. Ketergantungan pada satu komoditas membuat kinerja ekspor Sultra rentan terhadap fluktuasi harga logam global. Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Provinsi Sultra mengenai langkah konkret untuk mendorong diversifikasi produk ekspor unggulan non-logam dalam jangka pendek.