Kasuami, Makanan Khas Wakatobi dari Singkong Parut yang Dikukus, Jadi Warisan Kuliner Lokal

Penulis: Sofyan Basri  •  Rabu, 09 September 2026 | 08:16:01 WIB
Warga Wakatobi mengukus parutan singkong kering untuk dijadikan kasuami, makanan pokok pengganti nasi.

WAKATOBI — Di tengah gempuran beras dan makanan instan, warga Kabupaten Wakatobi tetap mempertahankan kasuami sebagai makanan pokok sehari-hari. Olahan singkong ini bukan sekadar pengganjal perut, melainkan warisan kuliner yang diwariskan turun-temurun di gugusan pulau-pulau penghasil terumbu karang terindah di dunia itu.

Proses pembuatannya terbilang sederhana namun butuh ketelatenan. Singkong diparut halus, kemudian dijemur hingga kering. Setelah kering, parutan singkong itu siap dikukus hingga matang dan pulen.

Dari Parutan Singkong hingga Hidangan di Atas Meja

Berbeda dengan nasi yang langsung dimasak, kasuami punya tahapan penyimpanan. Singkong parut kering bisa disimpan berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, sebelum akhirnya dikukus saat hendak disantap.

Kebiasaan ini lahir dari pola hidup masyarakat kepulauan yang kerap menghadapi cuaca tak menentu. Saat musim melaut tiba, stok kasuami kering menjadi penyelamat karena praktis dibawa dan cepat dimasak.

Singkong, Ketahanan Pangan yang Tak Lekang Zaman

Masyarakat Wakatobi sejak lama menempatkan singkong sebagai sumber karbohidrat utama. Tanaman umbi ini tumbuh subur di tanah berbatu dan kering khas pulau karang, menjadikannya pilihan yang masuk akal secara ekologis.

Kasuami biasanya disantap bersama lauk laut seperti ikan bakar, sup ikan, atau aneka olahan hasil tangkapan nelayan. Paduannya menciptakan cita rasa yang sederhana namun mengenyangkan.

Warisan Kuliner yang Perlu Dikenal Luas

Keberadaan kasuami sempat terekam dalam tayangan dokumenter Tanah Air Beta yang disiarkan Trans TV. Liputan itu memperlihatkan bagaimana warga setempat masih setia mengolah singkong dengan cara tradisional.

Dibandingkan dengan kuliner Sulawesi Tenggara lain yang lebih populer seperti sinonggi atau kabuto, kasuami justru menjadi penanda kuat bagaimana masyarakat Wakatobi beradaptasi dengan alamnya. Hidangan ini tidak pernah kehilangan tempat di hati warganya, meski zaman terus berubah.

Kini, kasuami bukan hanya soal rasa kenyang. Ia adalah jejak sejarah yang masih hidup, bukti bahwa kearifan lokal dalam mengelola sumber daya pangan tidak pernah benar-benar punah. Di setiap gumpalan kasuami yang mengepul hangat, tersimpan cerita tentang kerja keras, kesabaran, dan kecintaan warga kepulauan pada tanah kelahirannya.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: 20.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top