SULAWESI TENGGARA — QS World University Rankings 2027 baru saja merilis daftar perguruan tinggi dunia, dan hanya empat kampus swasta Indonesia yang masuk penilaian. Skor Employer Reputation jadi penentu utama, mengukur seberapa dilirik lulusannya oleh perusahaan perekrut global.
Dari 20 perguruan tinggi Indonesia yang masuk QS WUR 2027, hanya empat yang berstatus swasta. Keempatnya dinilai berdasarkan indikator Employer Reputation dengan bobot 15 persen dari total penilaian.
Bina Nusantara University menempati posisi teratas dengan skor Employer Reputation 32,1 poin. Angka itu menempatkannya di peringkat ke-433 dunia untuk indikator reputasi perusahaan.
BINUS jadi satu-satunya PTS Indonesia dalam daftar yang memperoleh nomor peringkat pasti, sementara tiga kampus lain berada di kelompok 701+.
Telkom University berada di posisi kedua dengan skor 13,6 poin. Selisihnya cukup lebar dari BINUS, mencapai 18,5 poin.
Meski begitu, Telkom University tetap unggul jauh di atas dua kampus swasta lainnya dalam hal persepsi pemberi kerja.
Universitas Trisakti menyusul di posisi ketiga dengan skor Employer Reputation 7,5 poin. Skor ini lebih tinggi daripada UMY, meski peringkat keseluruhan Trisakti berada di kelompok 1.401+.
Perbedaan urutan ini muncul karena peringkat QS secara keseluruhan memakai sembilan indikator, bukan hanya satu.
UMY menempati posisi keempat dengan skor 7 poin. Menariknya, peringkat keseluruhan UMY justru lebih tinggi dari Trisakti, yakni di kelompok 1.201–1.400.
Artinya, reputasi di mata perusahaan tidak selalu sejalan dengan peringkat universitas secara umum.
Indikator ini mengukur reputasi universitas dan program akademiknya di kalangan pemberi kerja. QS mengumpulkan penilaian lewat survei terhadap perusahaan dan organisasi perekrut lulusan dari berbagai negara.
Responden diminta menyebutkan perguruan tinggi yang dinilai menghasilkan lulusan berkualitas. Jadi, istilah "di mata perusahaan" di sini merujuk pada responden global, bukan hanya perusahaan Indonesia.
Bobotnya 15 persen dalam QS WUR 2027, terbesar ketiga setelah reputasi akademik 30 persen dan sitasi per dosen 20 persen. Indikator ini berbeda dari Employment Outcomes yang menilai rekam jejak kelayakan kerja alumni.
Skor indikator ini tidak bisa jadi patokan tunggal memilih kampus. Calon mahasiswa tetap perlu mempertimbangkan akreditasi program studi, kurikulum, jaringan industri, kesempatan magang, fasilitas, biaya kuliah, dan rekam jejak lulusan.
Keempat kampus di atas punya keunggulan masing-masing, tergantung bidang studi dan tujuan karier yang kamu incar.