Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat ekspor produk perikanan Sulawesi Tenggara mencapai 738 ton dengan nilai Rp171 miliar hingga pertengahan 2026. Produk tersebut telah menembus pasar Amerika Serikat, Meksiko, Jepang, Australia, Singapura, Filipina, Thailand, Kanada, dan Republik Dominika. Capaian ini menjadi sinyal positif bagi sektor kelautan daerah di tengah fluktuasi permintaan global.
KENDARI — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat ekspor produk perikanan dari Sulawesi Tenggara mencapai 738 ton dengan nilai Rp171 miliar hingga pertengahan 2026. Produk tersebut dipasarkan ke sejumlah negara tujuan utama, mulai dari Amerika Serikat, Meksiko, Jepang, Australia, Singapura, Filipina, Thailand, Kanada, hingga Republik Dominika.
Aktivitas bongkar muat hasil tangkapan terpantau di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Sodohoa, Kendari. Nelayan setempat menata ikan miliknya di lokasi tersebut, Minggu (27/9/2026), sebagai bagian dari rantai pasok yang menopang kinerja ekspor daerah.
Sembilan negara tercatat sebagai pembeli produk perikanan Sulawesi Tenggara sepanjang periode ini. Amerika Serikat dan Jepang masih menjadi pasar tradisional yang menyerap volume besar, sementara Meksiko, Kanada, dan Republik Dominika memperluas jangkauan ke kawasan Amerika lainnya.
Australia, Singapura, Filipina, dan Thailand melengkapi daftar tujuan di kawasan Asia-Pasifik. Nilai Rp171 miliar yang dibukukan KKP menunjukkan harga jual produk perikanan Sultra tetap kompetitif di pasar internasional.
Pangkalan Pendaratan Ikan Sodohoa di Kendari berperan sebagai titik kumpul hasil tangkapan sebelum masuk ke jalur distribusi ekspor. Fasilitas ini melayani nelayan lokal yang mengandalkan hasil laut sebagai sumber penghidupan utama.
Antrean kapal dan aktivitas penataan ikan di PPI menjadi pemandangan harian. Dari lokasi ini, produk perikanan bergerak ke pelabuhan ekspor sebelum dikirim ke negara tujuan.
Kinerja ekspor ini berdampak langsung pada pendapatan nelayan di Sulawesi Tenggara. Permintaan dari pasar global menjaga harga hasil tangkapan tetap stabil di tingkat nelayan.
Sektor perikanan juga menopang perekonomian daerah melalui penyerapan tenaga kerja, mulai dari nelayan, pekerja bongkar muat, hingga pelaku usaha pengolahan. Nilai ekspor Rp171 miliar menjadi kontribusi nyata bagi pendapatan asli daerah dan devisa negara.
Fluktuasi permintaan global dan standar mutu negara tujuan menjadi tantangan yang harus diantisipasi. Kualitas produk, ketepatan waktu pengiriman, dan sertifikasi menjadi kunci mempertahankan pasar yang sudah terbentuk.
Dengan sembilan negara tujuan yang tersebar di tiga benua, produk perikanan Sulawesi Tenggara memiliki basis pasar yang cukup beragam. Diversifikasi tujuan ekspor ini mengurangi risiko ketergantungan pada satu negara pembeli.