KENDARI — BRIN melalui Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biodiversity Lahan Tambang mengonsolidasikan peneliti dari lima kampus di Sulawesi Tenggara untuk menghasilkan rekomendasi dan teknologi reklamasi yang aplikatif. Kelima kampus itu adalah Universitas Halu Oleo, Universitas Lakidende, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Muhammadiyah Buton, dan UIN Kendari.
Kolaborasi ini menempatkan karakteristik lokal Sultra sebagai dasar perumusan teknologi, bukan sekadar menyalin model pemulihan dari daerah lain. Setiap kawasan tambang dinilai punya jenis tanah dan tingkat gangguan yang berbeda.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Rubiyo, menyebut pendekatan berbasis tanaman telah terbukti memperbaiki lahan bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara dan tambang timah di Bangka Belitung. Menurut dia, pengalaman riset di dua wilayah itu menunjukkan tanaman dapat membantu proses pemulihan lahan.
"Pengalaman penelitian di sana menunjukkan pendekatan berbasis tanaman dapat membantu proses pemulihan lahan. Potensi ini perlu dikaji untuk kondisi Sulawesi Tenggara karena setiap kawasan punya karakteristik tanah dan gangguan yang berbeda," ujar Rubiyo.
Rubiyo menegaskan pemulihan lahan tambang tidak berhenti pada upaya menghijaukan kembali area yang gundul. Ukuran keberhasilannya lebih dalam dari itu.
"Yang lebih penting adalah bagaimana fungsi ekologis tanah dapat diperbaiki, vegetasi dapat tumbuh berkelanjutan, dan lahan kembali memberi manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat," katanya.
Pernyataan itu mengarah pada tiga indikator: pulihnya fungsi tanah, tumbuhnya vegetasi secara berkelanjutan, serta kembalinya manfaat lahan bagi warga sekitar kawasan tambang.
Peneliti BRIN La Sinaini mengingatkan kerusakan akibat tambang masif di Sultra tidak bisa dilihat hanya dari lahan rusak. Perubahan kualitas tanah dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga dampak sosial ekonomi mesti diteliti secara terintegrasi.
"Persoalan lingkungan akibat pertambangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat kondisi lahan yang rusak. Pendekatan riset yang terintegrasi sangat dibutuhkan agar pemulihan benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah," kata La Sinaini.
Dua pendekatan yang disiapkan BRIN bekerja dengan cara berbeda. Bioremediasi memanfaatkan organisme biologis untuk merombak pencemar di tanah, sedangkan fitoremediasi memakai tanaman untuk menyerap dan menstabilkan logam berat sisa pengolahan tambang.
Hasil FGD di Kendari menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis bagi pemulihan lahan bekas tambang di Sultra. BRIN belum merinci lokasi prioritas maupun jadwal penerapan teknologi itu di lapangan.