BRIN Kembangkan Bioremediasi untuk Pulihkan Lahan Tambang Sultra

Penulis: Sofyan Basri  •  Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:34:31 WIB
Peneliti BRIN membahas pengembangan teknologi bioremediasi dan fitoremediasi untuk pemulihan lahan bekas tambang dalam FGD di Kendari.

SULAWESI TENGGARA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi bioremediasi dan fitoremediasi untuk memulihkan lahan bekas tambang di Sulawesi Tenggara yang kerusakannya dinilai makin sulit dikendalikan. Pendekatan berbasis organisme biologis dan tanaman itu dibahas dalam forum diskusi bersama lima perguruan tinggi di Kendari, Rabu (14/10). Langkah ini menjadi upaya memperbaiki fungsi ekologis tanah, bukan sekadar menghijaukan kembali lahan rusak.

Pendekatan tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) di Gedung Rektorat Universitas Halu Oleo, Kendari, Rabu (14/10). Forum itu mempertemukan peneliti BRIN dengan lima perguruan tinggi di Sultra untuk merancang langkah pemulihan yang sesuai karakteristik lokal.

Belajar dari Tambang Batu Bara dan Timah

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Rubiyo, menyebut teknologi itu sudah terbukti memperbaiki lahan bekas tambang batu bara di Kalimantan Utara dan tambang timah di Bangka Belitung. Menurut dia, pengalaman penelitian di dua wilayah itu menunjukkan pendekatan berbasis tanaman mampu membantu proses pemulihan lahan.

"Pengalaman penelitian di sana menunjukkan pendekatan berbasis tanaman dapat membantu proses pemulihan lahan. Potensi ini perlu dikaji untuk kondisi Sulawesi Tenggara karena setiap kawasan punya karakteristik tanah dan gangguan yang berbeda," ujar Rubiyo.

Ia menegaskan pemulihan bukan sekadar menghijaukan kembali lahan rusak. Yang lebih penting, kata dia, bagaimana fungsi ekologis tanah dapat diperbaiki, vegetasi tumbuh berkelanjutan, dan lahan kembali memberi manfaat bagi lingkungan maupun masyarakat.

Kerusakan Tak Cukup Dinilai dari Lahan Rusak

Peneliti BRIN La Sinaini mengingatkan kerusakan akibat tambang masif di Sultra tidak bisa dilihat hanya dari lahan yang rusak. Perubahan kualitas tanah dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, hingga dampak sosial ekonomi harus diteliti secara terintegrasi.

"Persoalan lingkungan akibat pertambangan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat kondisi lahan yang rusak. Pendekatan riset yang terintegrasi sangat dibutuhkan agar pemulihan benar-benar didasarkan pada bukti ilmiah," kata La Sinaini.

Lima Kampus Dilibatkan

Melalui PKR Biodiversity Lahan Tambang, BRIN mengonsolidasikan peneliti dari Universitas Halu Oleo, Universitas Lakidende, Universitas Muhammadiyah Kendari, Universitas Muhammadiyah Buton, dan UIN Kendari. Kolaborasi ini diarahkan menghasilkan rekomendasi dan teknologi reklamasi yang aplikatif dan berbasis karakteristik lokal Sultra.

Bagi warga di sekitar kawasan tambang, hasil riset ini menentukan apakah tanah yang tercemar bisa kembali produktif dan air di sekitarnya aman dipakai. Pendekatan berbasis bukti ilmiah juga menjadi rujukan bagi pemerintah daerah dan perusahaan pemegang izin tambang dalam menyusun program reklamasi.

Keberhasilan uji di Kalimantan Utara dan Bangka Belitung menjadi modal awal, tetapi kondisi tanah Sultra tetap perlu kajian tersendiri. Jika terbukti efektif, bioremediasi dan fitoremediasi bisa menjadi rujukan pemulihan lahan tambang di daerah lain dengan karakteristik serupa.

Reporter: Sofyan Basri
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top