SULAWESI TENGGARA — Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) kembali menyentuh level Rp17.904 per dolar AS, melemah 0,35% pada penutupan dini hari. Tekanan berlanjut menjelang pengumuman suku bunga Bank Indonesia yang diperkirakan tetap di 5,75%, dengan pelaku pasar mencermati langkah moneter bank sentral di tengah gejolak eksternal.
Pergerakan rupiah di pasar NDF menjadi sinyal awal tekanan terhadap mata uang domestik. Pada perdagangan pagi ini pukul 07.34 WIB, rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.902 per dolar AS, belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan.
Tekanan ini muncul setelah bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75-4%. Keputusan hawkish Federal Reserve tersebut memicu kembali penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury, yang berdampak langsung ke mata uang negara berkembang.
Stabilitas Rupiah Terganggu Pasca Keputusan The Fed
Sebelumnya, rupiah sempat menunjukkan stabilitas relatif sejak akhir Juli hingga pertengahan September. Kondisi itu memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk menahan suku bunga di level 5,75% dalam beberapa periode terakhir.
Namun stabilitas tersebut tidak bertahan lama. Setelah The Fed menaikkan suku bunga, pergerakan dolar AS kembali menguat dan menekan posisi rupiah. Pasar kini menanti apakah BI akan mempertahankan sikap atau mengubah strategi moneter.
Ekspektasi pasar saat ini mengarah pada kemungkinan BI Rate dipertahankan di 5,75%. Keputusan tersebut akan diumumkan dalam rapat dewan gubernur yang menjadi fokus utama pelaku pasar esok hari.
Tiga Faktor Eksternal yang Menekan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari kebijakan moneter AS. Sejumlah faktor eksternal lain turut memperberat posisi mata uang domestik:
- Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 bps ke 3,75-4% yang memperkuat dolar AS
- Harga minyak global yang masih bertahan di kisaran US$100 per barel
- Ketidakpastian geopolitik yang berlanjut dan menekan mata uang negara berkembang
Kombinasi ketiga faktor tersebut membuat ruang penguatan rupiah semakin terbatas. Pelaku pasar obligasi dan valas mencermati setiap sinyal dari Bank Indonesia untuk menentukan posisi.
Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Bisnis
Bagi investor asing, pelemahan rupiah menambah pertimbangan dalam mengalokasikan dana ke aset Indonesia. Imbal hasil obligasi pemerintah menjadi kurang menarik jika selisihnya dengan US Treasury terus menyempit.
Pelaku bisnis yang memiliki utang dalam dolar AS perlu mencermati pergerakan kurs. Biaya impor bahan baku juga berpotensi naik jika rupiah terus tertekan, yang pada akhirnya bisa mendorong kenaikan harga barang di pasar domestik.
Pasar menanti apakah Bank Indonesia akan mengeluarkan kebijakan tambahan untuk menstabilkan rupiah, termasuk intervensi di pasar valas atau penyesuaian instrumen moneter lainnya.