Sejumlah pedagang di Pasar Sentral Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, meminta pemerintah daerah membenahi kondisi pasar yang dinilai makin sepi pembeli sejak beberapa tahun terakhir. Keluhan itu disampaikan langsung saat aktivitas jual beli berlangsung, Senin (21/9), dengan harapan kunjungan warga kembali meningkat. Para pedagang menyoroti bangunan yang kurang terawat, keamanan, hingga kebersihan sebagai penyebab utama pembeli enggan datang.
KENDARI — Randi, pedagang parfum berusia 35 tahun, menyebut sepinya Pasar Sentral Kendari sudah berlangsung lama. Ia menilai jumlah pembeli kini jauh berbeda dibandingkan masa sebelum pandemi.
"Awal mula itu gara-gara corona," kata Randi saat ditemui di lokasi pasar.
Menurut Randi, pembeli sebenarnya masih datang, hanya saja jumlahnya tidak bisa diprediksi setiap hari. "Ada pembeli tapi kurang," ujarnya.
Kios Lantai Dua dan Tiga Banyak Tak Terisi
Perpindahan pedagang ke pasar lain membuat sejumlah kios di lantai atas Pasar Sentral Kendari kosong. Randi menyebut kondisi lantai dua tempatnya berjualan kini tidak lagi seramai dulu.
"Pokoknya turun drastis perubahannya, jauh beda," katanya.
Randi mengaku tetap membuka usaha setiap hari meski jumlah pengunjung berubah-ubah. Ia tidak bisa menyebut ada jam atau hari tertentu yang bisa disebut sebagai periode ramai.
Kondisi bangunan, keamanan, dan kebersihan pasar dinilai perlu mendapat perhatian agar pengunjung kembali nyaman berbelanja. Randi berharap pemerintah segera melakukan pembenahan menyeluruh.
Pedagang Kain Soroti Perawatan Bangunan Pasar
Santi, pedagang kain berusia 38 tahun, mempertanyakan perawatan bangunan pasar yang dinilai kurang diperhatikan. Ia menilai pembangunan pasar yang besar tidak berarti jika tidak dirawat dengan baik.
"Untuk apa membangun suatu begini, sentral besar-besar, kalau tidak dirawat," kata Santi.
Santi berharap pemerintah memperbaiki bagian luar dan dalam pasar sekaligus meningkatkan kunjungan masyarakat. Menurut dia, promosi lewat media sosial bisa membantu memperkenalkan kembali Pasar Sentral Kendari kepada warga.
Pembeli Tak Menentu, Andi Bertahan Hampir Dua Tahun
Andi Nurdin, pedagang perabotan berusia 57 tahun, mengaku jumlah pembeli yang datang tidak menentu. Ia telah berjualan di Pasar Sentral Kendari hampir dua tahun.
"Kadang ada pembeli, kadang tidak ada. Hari ini sama sekali tidak ada," kata Andi.
Andi melihat sejumlah kios di lantai dua dan tiga sudah tidak lagi digunakan pedagang. Ia berharap pemerintah melakukan pembenahan agar aktivitas perdagangan kembali meningkat dan pedagang memperoleh lebih banyak pembeli.
Keluhan para pedagang menyoroti persoalan yang saling berkait: bangunan yang kurang terawat, kios kosong di lantai atas, dan minimnya promosi. Pembenahan menyeluruh disebut menjadi kunci untuk menarik kembali warga berbelanja di pasar yang menjadi salah satu pusat perdagangan Kota Kendari itu.