SULAWESI TENGGARA — Punya pohon duku di pekarangan yang tumbuh subur tapi tak kunjung berbuah? Kondisi itu tak selalu berarti tanaman kekurangan pupuk. Pembungaan duku dipengaruhi banyak faktor, dari asal bibit, kondisi air, unsur hara, cahaya, hingga keadaan tanah.
Perawatan pohon duku perlu disesuaikan dengan fase pertumbuhannya. Pohon yang terus menghasilkan tunas dan daun belum tentu siap membentuk bunga. Sebaliknya, mengurangi air atau pupuk secara berlebihan justru bisa membuat tanaman stres.
1. Atur penyiraman sesuai kondisi tanah
Ketersediaan air jadi salah satu kunci pembungaan duku. Tanaman ini umumnya berbunga setelah melewati periode relatif kering, lalu kembali mendapat air. Di pekarangan, sesuaikan dengan cuaca. Saat hujan sering turun dan tanah sudah lembap, tak perlu menyiram berlebihan. Yang perlu dihindari adalah membuat tanah terus basah atau membiarkan tanaman kekeringan sampai rusak.
2. Berikan pupuk sesuai kebutuhan tanaman
Pupuk menyediakan unsur hara untuk tumbuh dan berproduksi, tapi jumlah banyak tak otomatis mempercepat bunga. Pedoman budidaya dari Kementerian Pertanian menyebut duku tumbuh baik pada tanah dengan pH sekitar 6–7, meski relatif toleran terhadap tanah lebih masam. Untuk pohon besar, gunakan bahan organik dan pupuk sesuai anjuran produk. Hindari menambah dosis sembarangan karena kelebihan unsur tertentu mengganggu keseimbangan pertumbuhan.
3. Pangkas cabang yang terlalu rapat
Cabang yang terlalu padat membuat bagian dalam tajuk kurang mendapat cahaya dan sirkulasi udara. Pemangkasan selektif membantu tajuk lebih teratur. Periksa cabang kering atau rusak, cabang yang saling bertumpuk, tunas yang tumbuh terlalu banyak ke arah dalam, dan bagian yang membuat tajuk terlalu padat. Lakukan bertahap dengan alat bersih. Memangkas terlalu banyak sekaligus juga bisa mengganggu pertumbuhan.
4. Perbaiki kondisi tanah di sekitar pohon
Akar butuh kondisi tanah yang memungkinkan air dan unsur hara tersedia dengan baik. Tanah yang terus tergenang perlu diperhatikan karena kelebihan air mengganggu perakaran. Berikan bahan organik untuk menjaga kondisi tanah. Kendalikan rumput dan gulma agar tidak terlalu banyak mengambil air dan unsur hara. Mulsa atau bahan organik jangan ditumpuk menempel batang, sisakan ruang di sekitar pangkal agar tidak terus lembap.
5. Jangan terlalu mendorong pertumbuhan daun
Pohon yang terus menghasilkan tunas dan daun memang menunjukkan pertumbuhan vegetatif, tapi belum tentu segera diikuti pembentukan bunga. Pemberian pupuk nitrogen perlu diperhatikan agar tidak berlebihan. Sesuaikan penyiraman dengan kondisi tanah, terutama saat curah hujan tinggi. Jika tunas sedang tumbuh sangat aktif, amati dulu sebelum menambah pupuk. Jangan sengaja membuat pohon kekeringan parah demi memancing bunga karena stres berat bisa merusak tanaman.
6. Perhatikan asal bibit sejak awal
Kalau tujuan menanam duku adalah memperoleh buah dalam waktu lebih singkat, asal bibit perlu dipertimbangkan sejak awal. Tanaman dari biji umumnya butuh waktu lebih panjang untuk berbuah dibandingkan tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. Salah satu metode yang bisa dipakai adalah sambung pucuk dari tanaman induk yang sudah punya karakter berbuah. Jadi, pohon duku yang belum berbuah tak selalu bisa diselesaikan hanya dengan mengubah perawatan.
7. Periksa hama dan penyakit secara rutin
Pemeriksaan rutin membantu mendeteksi gangguan sejak dini sebelum berdampak pada pertumbuhan dan pembungaan. Amati daun, batang, dan bagian sekitar tajuk untuk melihat tanda serangan hama atau penyakit. Jika ditemukan gejala, tangani sesuai jenis gangguannya dan kondisi tanaman. Jangan menunggu serangan meluas karena pemulihan tanaman yang sudah lemah butuh waktu lebih lama.
Merawat pohon duku agar cepat berbuah bukan soal memberi satu perlakuan khusus, melainkan menjaga keseimbangan air, hara, cahaya, dan kondisi tanah. Sesuaikan setiap langkah dengan kondisi tanaman, bukan sekadar mengikuti anjuran umum.