KENDARI — Nurhaena, S.Pd., M.Pd. mengaku tidak menyangka namanya dipilih menjadi pembaca teks Pancasila dalam upacara resmi tingkat provinsi tersebut. Panggilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra datang mendadak, hanya sehari sebelum upacara digelar. Ia pun langsung bergegas mengikuti gladi persiapan di Kantor Gubernur Sultra.
Guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Kendari itu mengajar siswa kelas XI dan XII. Sepanjang kariernya sebagai pendidik, ia terbiasa berbicara di depan banyak orang. Namun suasana upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila menuntut cara berbeda: satu suara di tengah lapangan yang senyap.
Mengapa Nurhaena Merasa Gugup Meski Terbiasa Berbicara di Depan Umum
Nurhaena mengaku tetap merasakan rasa gugup saat membacakan teks Pancasila. Baginya, membaca dalam suasana khidmat tanpa suara lain jauh berbeda dari mengajar di kelas.
"Sedikit nervous juga. Saya lebih banyak disuruh berbicara di depan orang banyak. Tanpa teks pun bisa. Tapi kalau disuruh membaca dalam suasana tanpa suara satu pun orang yang bersuara, hanya saya yang bersuara, itu yang membuat saya nervous," ungkapnya, ditemui awak media usai upacara.
Rasa gugup itu berhasil dilaluinya dengan menjaga konsentrasi dan keyakinan hingga seluruh rangkaian pembacaan Pancasila selesai. "Alhamdulillah saya yakin Tuhan melindungi saya," katanya.
Pengalaman Menwa di UHO dan Apresiasi dari Jajaran Pemprov Sultra
Di balik sosoknya sebagai guru, Nurhaena memiliki pengalaman di Resimen Mahasiswa (Menwa) saat menempuh pendidikan di Universitas Halu Oleo (UHO). Ia tercatat masuk UHO pada 1989 dan mengikuti pendidikan Resimen Mahasiswa pada 1990. Pengalaman itu disebutnya turut membentuk kedisiplinan dan keberaniannya tampil dalam berbagai kegiatan resmi.
Nurhaena menyebut kepercayaan ini sebagai pengalaman yang membanggakan sekaligus mengharukan. Apalagi, teks Pancasila dibacakannya di hadapan Gubernur Sultra Andi Sumangerukka bersama jajaran pejabat Pemerintah Provinsi Sultra.
"Saya secara pribadi merasa bahagia, alhamdulillah luar biasa. Kemarin sore tiba-tiba ditelepon dari Diknas Provinsi Sulawesi Tenggara untuk didaulat menjadi pembaca Pancasila di Kantor Gubernur. Saat itu juga saya langsung dipanggil untuk gladi," ujarnya.
Ia semakin terharu setelah pelaksanaan upacara mendapat apresiasi dari jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Sultra maupun para pejabat yang hadir. "Alhamdulillah, tadi dari Dinas Pendidikan Provinsi dan semua yang hadir memberikan apresiasi yang luar biasa. Itu yang membuat kami terharu. Ini kebanggaan tersendiri buat saya secara pribadi bisa membacakan Pancasila di depan Bapak Gubernur," tuturnya.
Kali Pertama Bertugas di Kantor Gubernur Sultra
Sepanjang kariernya, ini menjadi kali pertama Nurhaena dipercaya membacakan teks Pancasila dalam upacara di Kantor Gubernur Sultra. Upacara yang berlangsung di Lapangan Ucapan itu digelar dengan suasana kebangsaan dan penuh khidmat.
Bagi Nurhaena, membacakan Pancasila bukan sekadar menjalankan tugas seremonial. Ia memandangnya sebagai momentum meneguhkan kembali nilai-nilai Pancasila, khususnya di lingkungan pendidikan tempatnya mengajar sehari-hari.
"Saya sangat bersyukur dan bangga mendapat kesempatan ini. Apalagi Pak Gubernur sendiri menyaksikan dan seluruh pejabat di Sulawesi Tenggara juga menyaksikan," pungkasnya.