Pencarian

Smelter Freeport Beroperasi Lagi, Kapasitas Tembaga 800 Ribu Ton

Kamis, 08 Oktober 2026 • 08:34:01 WIB
Smelter Freeport Beroperasi Lagi, Kapasitas Tembaga 800 Ribu Ton
Smelter PT Smelting dan Smelter Manyar kembali beroperasi setelah perbaikan furnace dan pemulihan pascainsiden di tambang Grasberg.

SULAWESI TENGGARA — PT Freeport Indonesia kembali mengoperasikan dua fasilitas pengolahan tembaganya, yakni PT Smelting dan Smelter Manyar di Gresik, Jawa Timur, setelah sempat terhenti akibat perbaikan furnace dan insiden di tambang Grasberg. Kapasitas peleburan gabungan keduanya ditargetkan mencapai sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun berdasarkan laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan.

Paragraf pembuka: Direktur Eksekutif Indonesia Mining & Energy Watch (IMEW) Ferdy Hasiman menilai pemulihan operasional kedua smelter itu membuat pengolahan konsentrat tembaga PTFI jauh lebih optimal. Menurut dia, PT Smelting dan Smelter Manyar termasuk fasilitas peleburan tembaga terbesar yang dimiliki perusahaan tambang tersebut. PT Smelting sendiri sempat dihentikan sementara sejak 8 Agustus 2026 untuk perbaikan fasilitas furnace, sedangkan Smelter Manyar baru kembali beroperasi usai terdampak penghentian operasi pascainsiden di tambang Grasberg.

Kapasitas Peleburan Gabungan Capai 800 Ribu Ton

Laporan kuartal III 2026 Freeport-McMoRan (FCX) mencatat kapasitas peleburan gabungan PTFI, termasuk PT Smelting, ditargetkan mampu menghasilkan hingga sekitar 800 ribu ton katoda tembaga per tahun. Angka itu menegaskan posisi kedua fasilitas sebagai penopang utama rantai nilai tembaga di dalam negeri.

Smelter Manyar kembali menerima pasokan konsentrat pada Agustus dan mulai memproduksi katoda tembaga pada September. Sebelumnya, pasokan konsentrat yang terbatas diprioritaskan untuk PT Smelting agar operasional fasilitas itu tetap berjalan.

"Ya tentu positif karena smelter tembaganya Freeport merupakan yang terbesar. Dengan begitu nanti pengolahan konsentratnya menjadi lebih optimal," ujar Ferdy, dikutip Rabu (7/10/2026).

Produksi Grasberg Pulih Bertahap hingga Akhir 2027

Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut pemulihan operasional fasilitas pengolahan PTFI sebagai perkembangan yang positif. Ia berharap peningkatan kapasitas smelter bisa berlangsung bertahap seiring pemulihan produksi tambang Grasberg yang ditargetkan rampung pada akhir 2027.

Menurut Yusuf, periode pemulihan itu bisa dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat ekosistem industri hilir tembaga nasional. Peningkatan kapasitas smelter, katanya, perlu diikuti pengembangan industri pengolahan lanjutan supaya nilai tambah komoditas tembaga lebih besar dinikmati di dalam negeri.

Tiga Perempat Katoda Masih Diekspor

Sekitar tiga perempat produksi katoda PT Smelting saat ini masih dikirim ke luar negeri. Penyebabnya, industri pengolahan katoda domestik belum cukup besar untuk menyerap seluruh hasil produksi.

Kondisi itu menunjukkan peluang pengembangan industri turunan tembaga di Indonesia masih terbuka lebar. Pemerintah nantinya akan mengorkestrasi pengembangan tersebut melalui MIND ID agar pemanfaatan tembaga tidak berhenti pada produk katoda.

"Persoalannya bukan sekadar ada atau tidak ada permintaan. Yang juga menentukan adalah harga, kepastian kontrak jangka panjang, spesifikasi produk, dan pola pasokan industri," ujar Yusuf.

Ia menekankan Indonesia punya posisi strategis karena didukung cadangan tembaga yang besar. Pengembangan industri hilir pun perlu diarahkan konsisten menuju produk bernilai tambah lebih tinggi, mulai dari batang tembaga, kawat, kabel, hingga copper foil untuk mendukung ekosistem kendaraan listrik.

Penutup: Kembali beroperasinya PT Smelting dan Smelter Manyar memperkuat kapasitas pengolahan konsentrat tembaga sekaligus rantai nilai komoditas tersebut di dalam negeri. Tantangan berikutnya bukan lagi soal beroperasinya smelter, melainkan seberapa cepat industri turunan tembaga dalam negeri tumbuh agar ekspor katoda bisa ditekan.

Follow inisultra.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks