SULAWESI TENGGARA — Penguatan rupiah di pasar spot diperkirakan tertahan setelah harga minyak menembus US$106,48 per barel dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve kembali menguat. Probabilitas kenaikan Fed Fund Rate bulan ini naik dari 20,5% menjadi 22,7% menurut data Fedwatch.
Bloomberg Technoz melaporkan bahwa tekanan datang dari dua sisi sekaligus. Harga minyak yang kembali melejit ke level US$106,48 per barel menekan mata uang negara importir energi, sementara pelaku pasar kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga acuan bulan ini.
Gubernur Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan tidak melihat alasan bagi bank sentral AS untuk kembali menaikkan suku bunga pada 2027. Namun pernyataannya bahwa kenaikan satu kali lagi tahun ini adalah langkah yang tepat justru membuat probabilitas Fed Fund Rate meningkat.
Probabilitas Kenaikan Fed Fund Rate Naik ke 22,7%
Melansir Fedwatch, probabilitas kenaikan FFR bulan ini terus naik dari 20,5% pada hari sebelumnya menjadi 22,7% pagi ini. Pasar membaca pernyataan Williams sebagai sinyal bahwa The Fed belum sepenuhnya menutup pintu pengetatan.
Meski begitu, sebagian pelaku pasar menyambut perkembangan ini sebagai sinyal positif. Setidaknya, suku bunga The Fed tidak bertahan tinggi lebih lama seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Won Korea Satu-satunya yang Menguat di Asia
Dari pasar valuta Asia, hanya won Korea Selatan yang mencatat penguatan, yakni 0,1%. Rupiah di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF) menguat terbatas 0,02% ke Rp17.923 per dolar AS.
Pergerakan terbatas di pasar NDF mencerminkan pelaku pasar masih menahan posisi menjelang keputusan The Fed. Tekanan eksternal dari harga minyak dan ekspektasi suku bunga membuat ruang penguatan rupiah di pasar spot tetap sempit.