SULAWESI TENGGARA — Sepanjang tahun 2025, rupiah sudah tergerus 6,25% terhadap greenback. Level Rp 17.724 ini menggeser rekor terlemah sebelumnya yang sempat terjadi pada krisis 1998 dan tekanan pandemi 2020. Tekanan jual terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS secara global.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Mayoritas mata uang Asia juga terkapar di hadapan dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%. Rupee India dan yuan China hanya terkoreksi tipis masing-masing 0,04% dan 0,01%.
Analis Doo Financial Lukman Leong menilai pelemahan mata uang Asia terjadi karena pelaku pasar mulai mengurangi kekhawatiran global. “Meredanya ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda serangan ke Iran membuat dolar AS kembali perkasa,” ujar Lukman.
Di dalam negeri, pelaku pasar masih mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia. Pasar berekspektasi BI akan menaikkan suku bunga acuan untuk menahan laju pelemahan rupiah. Ekspektasi ini justru membuat investor cenderung menahan diri, tidak berani mengambil posisi agresif di pasar valas.
Menurut Lukman, sikap wait and see ini wajar karena keputusan BI akan menentukan arah pergerakan rupiah ke depan. “Jika BI naikkan suku bunga, rupiah bisa stabil. Tapi jika tidak, tekanan jual bisa semakin besar,” jelasnya.
Lukman memperkirakan rupiah masih berpotensi menguat meski sangat terbatas. Pelaku pasar, kata dia, tetap waspada terhadap fundamental domestik yang dinilai masih lemah. Ia memproyeksikan rupiah akan bergerak di rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 pada perdagangan hari ini.
Tekanan terhadap rupiah diprediksi belum akan mereda dalam waktu dekat. Investor disarankan mencermati pengumuman BI dan pergerakan dolar AS secara global sebagai acuan pengambilan keputusan. Investasi mengandung risiko.