SULAWESI TENGGARA — Kabar mengenai kehadiran penerus Nissan Skyline kembali hangat di kalangan pencinta otomotif global. Laporan dari sejumlah media otomotif Jepang mengindikasikan bahwa pabrikan Yokohama sedang merampungkan pengembangan generasi penerus sedan legendaris ini. Namun, berbeda dengan pendahulunya yang identik dengan mesin turbo bensin, Skyline masa depan akan sepenuhnya beralih ke teknologi baterai.
Nama Skyline memiliki posisi sakral dalam portofolio Nissan selama lebih dari enam dekade. Keputusan untuk mengubah lini ini menjadi kendaraan listrik murni (EV) mencerminkan arah strategis perusahaan yang tertuang dalam rencana jangka panjang Nissan Ambition 2030. Langkah ini juga menjadi jawaban atas semakin ketatnya regulasi emisi di berbagai negara maju.
Di pasar global, khususnya Amerika Serikat, Skyline selama ini dikenal dengan emblem Infiniti Q50. Mengingat penjualan sedan premium konvensional yang terus menyusut akibat gempuran SUV, Nissan harus merumuskan ulang formula Skyline. Hasilnya adalah sebuah kendaraan ramah lingkungan yang tetap mempertahankan karakter berkendara dinamis khas Skyline.
Arah desain Skyline baru diyakini tidak akan jauh dari mobil konsep yang telah dipamerkan Nissan pada ajang Japan Mobility Show. Pabrikan sempat memamerkan Infiniti Vision Qe, sebuah konsep sedan listrik fastback dengan siluet aerodinamis yang sangat rendah. Garis desain inilah yang diproyeksikan menjadi basis estetika Skyline generasi berikutnya.
Detail eksterior kemungkinan besar mengadopsi lampu LED interaktif pada bagian fascia depan dan belakang. Karakter bodi dibuat meliuk mulus untuk meminimalkan hambatan angin demi mengejar efisiensi jarak tempuh baterai yang maksimal. Pendekatan ini membuat tampilan Skyline EV jauh lebih futuristik dibanding model V37 yang saat ini masih beredar.
Sektor performa dipastikan mengandalkan sistem penggerak semua roda (AWD) pintar yang disebut e-4ORCE. Teknologi ini menggunakan motor listrik ganda di poros depan dan belakang untuk membagi torsi secara instan ke setiap roda. Hasilnya adalah pengendalian presisi dan traksi maksimal saat menikung pada kecepatan tinggi.
Mengenai kapasitas baterai dan jarak tempuh, Nissan masih menutup rapat informasi teknis tersebut. Namun, platform modular EV khusus milik aliansi Renault-Nissan-Mitsubishi dipastikan menjadi basis pengembangan sasis. Penggunaan platform khusus EV ini memberikan keuntungan berupa ruang kabin yang jauh lebih lapang berkat absennya terowongan transmisi tradisional.