KENDARI — Rentetan gempa bumi yang mengguncang Sulawesi Tenggara dalam lima hari terakhir didominasi oleh aktivitas seismik di darat, bukan di laut. Data BMKG menunjukkan, dari total 44 kali gempa yang tercatat sejak awal pekan lalu, sebanyak 29 kali di antaranya berpusat di wilayah Konawe Utara.
Tidak hanya itu, Kolaka Timur mencatat 10 kali gempa, sementara Kota Kendari dan Buton Utara masing-masing dua kali. Dua gempa sisanya terjadi di perairan, namun tidak berpotensi tsunami.
BMKG menjelaskan, gempa-gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif di daratan Sulawesi. Konawe Utara dikenal berada di zona sesar yang cukup kompleks, sehingga pergerakan lempeng mikro kerap memicu getaran berskala kecil hingga menengah.
Meski mayoritas gempa berkekuatan di bawah magnitudo 3,5, beberapa di antaranya terasa cukup kuat oleh warga setempat. Belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat rentetan gempa ini.
Di Kolaka Timur, 10 gempa yang tercatat umumnya berpusat di Kecamatan Tirawuta dan sekitarnya. Sementara di Kendari, dua gempa dirasakan oleh warga di Kecamatan Poasia dan Kambu pada malam hari.
Warga di Buton Utara juga melaporkan getaran ringan yang berlangsung beberapa detik. BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah tersebut secara real-time. Masyarakat diimbau untuk memastikan bangunan rumah cukup tahan gempa dan menghindari bangunan retak akibat getaran berulang.
“Kami mengingatkan warga di zona rawan gempa untuk selalu waspada, terutama saat terjadi gempa susulan,” ujar petugas BMKG setempat dalam keterangan resmi.
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas gempa di Sulawesi Tenggara masih tercatat fluktuatif. Warga diminta tidak panik, namun tetap siaga terhadap kemungkinan gempa susulan yang lebih besar.