KENDARI — Prof Yusuf Sabilu bukan nama baru di lingkungan Universitas Halu Oleo. Selama lebih dari 33 tahun, ia mengabdikan seluruh karir akademiknya di kampus yang berlokasi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara itu. Kini, ia melangkah maju dalam kontestasi pemilihan rektor untuk periode 2026-2030.
Visi yang diusungnya cukup ambisius: mewujudkan UHO yang berdaya saing di tingkat global, unggul, kolaboratif, adaptif, berdampak, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045. Dalam dokumen visi-misinya, Prof Yusuf menyebut visi itu sebagai wujud tuntutan zaman terhadap sivitas akademika UHO untuk terus berbenah.
"Mencetak generasi emas yang dibutuhkan oleh masyarakat, negara dan bangsa," tulisnya dalam dokumen tersebut.
Visi itu dijabarkan dengan fokus pada pengembangan IPTEKS, harmonisasi, dan kesejahteraan berkelanjutan. Poin yang menonjol adalah pengembangan wilayah pesisir, kelautan, dan pedesaan — sektor yang relevan dengan karakter geografis Sulawesi Tenggara. Visi ini juga menegaskan komitmennya mengantar UHO menjadi perguruan tinggi terdepan di Kawasan Timur Indonesia.
Prof Yusuf juga mengaitkan visinya dengan program strategis nasional. Ia menyebut swasembada pangan, energi, hilirisasi, dan industrialisasi sebagai pilar yang ingin didukung UHO di bawah kepemimpinannya nanti.
Perjalanan akademik Prof Yusuf dimulai dari program studi Pendidikan Biologi FKIP UHO, meraih gelar sarjana pada 1991. Ia kemudian melanjutkan studi magister Biologi di IPB (1999) dan doktor Ilmu Pertanian di Universitas Hasanuddin (2015).
Karirnya di UHO dimulai sebagai asisten dosen pada 1992. Ia kemudian menduduki berbagai posisi strategis: Ketua Jurusan Biologi FMIPA (2003-2007), Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA (2007-2011), Dekan FKM (2014-2022), hingga Ketua Senat FKM sejak 2023.
Di luar kampus, ia aktif di lembaga riset nasional dan forum kemitraan lintas sektor bersama pemerintah daerah. Salah satu perannya yang menonjol adalah dalam program penanggulangan stunting di Sulawesi Tenggara. Ia juga terlibat di organisasi profesi Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI).
Sepanjang karirnya, penyokong akreditasi UHO Unggul ini telah menerbitkan lebih dari 130 artikel publikasi global. Beberapa di antaranya terindeks Scopus dan WoS, serta jurnal nasional terakreditasi SINTA dan Garuda. Ia juga aktif menulis buku — setidaknya 13 judul telah diterbitkan dalam dua tahun terakhir, mulai dari Wawasan Kemaritiman (2025), Ilmu Gizi dan Pangan (2025), hingga Implementasi Program Germas di Kota Kendari (2021).
Dengan rekam jejak itu, Prof Yusuf dinilai memiliki ikatan emosional dan pemahaman mendalam mengenai budaya, potensi, serta tantangan internal UHO. Kontestasi pemilihan rektor UHO periode 2026-2030 dipastikan akan berlangsung ketat.