Arthur Fery, dari Lapangan di Dekat Wimbledon ke Ambang Final Grand Slam

Penulis: Vicky Prasetya  •  Jumat, 10 Juli 2026 | 02:02:01 WIB
Arthur Fery melaju ke semifinal Wimbledon, mengukir prestasi di lapangan yang sama tempat ia tumbuh.

SULAWESI TENGGARA — Perjalanan Arthur Fery nyaris membentuk lingkaran sempurna. Lahir di Sevres, Prancis, ia pindah ke London sebelum ulang tahun pertamanya dan tumbuh besar di Wimbledon—hanya beberapa menit jalan kaki dari All England Club. Kini, ia kembali ke lapangan yang sama, bukan sebagai penonton, melainkan sebagai salah satu dari empat pemain terbaik di turnamen paling bergengsi di dunia.

Warisan Olahraga dari Orang Tua Prancis

Bakat Fery bukanlah kebetulan. Ibunya, Olivia, pernah bermain ganda di Prancis Terbuka 1991 dan berlaga di Fed Cup. Ayahnya, Loic, adalah seorang financier yang pernah memiliki klub Ligue 1, Lorient—sehingga memahami tekanan atlet papan atas. "Mereka sangat mendukung, tidak hanya sekarang, tapi juga di masa-masa sulit selama 10-11 tahun terakhir," ujar Fery kepada BBC Sport.

Pukulan Drop Shot Pertama di Usia 4 Tahun

Langkah pertamanya di dunia tenis dimulai di Westside Tennis Club, kurang dari satu mil dari Centre Court. Pelatih pertamanya, Alison Taylor—istri legenda tiga kali semifinalis Wimbledon, Roger Taylor—langsung melihat keistimewaan. "Arthur sangat atletis dan berbakat. Footwork-nya luar biasa. Dia suka drop shot dan rush net," kenang Alison. Kualitas itulah yang menjadi senjata utama Fery di Wimbledon tahun ini.

Keputusan Tak Biasa: Tetap di Inggris, Baru ke Stanford

Alih-alih berkeliling dunia sebagai junior, Fery dan pelatihnya memilih jalur berbeda: bermain melawan orang dewasa di Inggris. Baru pada usia 16 tahun ia mengejar peringkat junior, dan hasilnya langsung terlihat—ia memenangkan gelar ganda dan tunggal Junior Wimbledon, serta menembus peringkat 12 dunia junior. Setelah itu, ia memilih kuliah di Stanford University, California, selama tiga tahun. "Saya belum siap langsung bermain turnamen profesional. Stanford memberi saya waktu untuk matang," kata Fery.

Bone Bruising dan Investasi dari Kemenangan

Transisi ke level tertinggi tidak mulus. Cedera bone bruising di lengan sempat membuatnya mengalami "momen-momen gelap", mirip dengan yang dialami Jack Draper. Setelah mencapai babak kedua Australia Terbuka awal tahun ini, Fery menginvestasikan seluruh hadiah £115.000-nya untuk mendatangkan fisioterapis penuh waktu dan ahli biomekanik. Keputusan itu mulai membuahkan hasil di Wimbledon.

Kini, Fery hanya butuh satu kemenangan lagi untuk menulis ulang sejarah—dari bocah yang belajar memegang raket di bayang-bayang Centre Court, menjadi finalis di panggung yang sama.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top