SULAWESI TENGGARA — Bendungan Jlantah tak hanya berfungsi mengairi sawah. Menurut Kepala BBWS Bengawan Solo Gatot Bayuaji, waduk buatan itu menyimpan potensi listrik total 10,625 MW dari dua lini. Pertama, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) mini berkapasitas 0,625 MW yang mengandalkan arus buangan air. Kedua, proyek PLTS terapung raksasa 10 MW yang panel-panelnya akan dipasang di atas permukaan air.
"Tenaga surya itu nanti ditumpangkan di atas bendungan, di air. Jadi yang itu nanti kita undang investor-investor yang bisa bekerja sama," ujar Gatot Bayuaji, Jumat, 10 Juli 2026.
Gatot menegaskan, pemasangan panel surya di atas air dinilai jauh lebih efisien ketimbang membangun pembangkit di darat. Pasalnya, skema ini tidak memerlukan pembebasan lahan baru yang kerap memakan waktu dan biaya besar. Selain menghasilkan listrik, hamparan panel surya juga berfungsi ganda: menekan laju penguapan air bendungan akibat paparan sinar matahari langsung.
Saat ini, proyek tersebut masih dalam tahap penjajakan awal. Pihak BBWS membuka pintu selebar-lebarnya bagi investor swasta maupun BUMN yang berminat menanamkan modal. "Fokus kita saat ini memang ke irigasi dulu, baru setelah itu melangkah ke pengembangan potensi listrik tersebut," kata Gatot.
Gatot berharap pemerintah daerah memberikan dukungan penuh, terutama untuk memperlancar proses perizinan investasi di lapangan. "Jika proyek EBT ini terealisasi, Bendungan Jlantah akan menjadi percontohan waduk modern yang mandiri energi," ucapnya.
Langkah pencarian mitra strategis akan mulai diintensifkan secara paralel dengan penyelesaian jaringan irigasi sekunder. Jika terealisasi, listrik yang dihasilkan dari PLTS terapung dan PLTA mini ini diharapkan mampu menyuplai kebutuhan industri hulu maupun domestik di Kabupaten Karanganyar.