SULAWESI TENGGARA — Keperkasaan nilai tukar seringkali dijadikan ukuran kesehatan ekonomi. Namun, teori impossible trinity mengingatkan bahwa tidak ada negara yang bisa sekaligus mempertahankan kurs tetap, membebaskan arus modal, dan menjalankan kebijakan moneter independen. Pilihan selalu datang dengan biaya.
Rupiah yang menguat karena produktivitas dan ekspor tentu disambut baik. Bahaya muncul ketika keperkasaan dipaksakan melalui suku bunga tinggi, pengurasan cadangan devisa, dan pengorbanan pertumbuhan. Efeknya, kredit menjadi lebih mahal, investasi tertunda, dan lapangan kerja melambat.
Sebaliknya, kurs yang fleksibel berfungsi sebagai peredam guncangan. Saat harga komoditas atau suku bunga global berubah, sebagian tekanan diserap oleh nilai tukar, bukan oleh pertumbuhan ekonomi. Kajian Bank for International Settlements (BIS) mengonfirmasi peran fleksibilitas nilai tukar dalam meredam volatilitas output di negara berkembang.
Data terkini menunjukkan fundamental yang solid. Inflasi Juni 2026 tercatat 3,34%, masih dalam target. BI-Rate berada di 5,75%, sementara cadangan devisa akhir Juni mencapai US$145,6 miliar, setara 5,5 bulan impor. Angka-angka ini menegaskan bahwa level kurs semata tidak cukup untuk men