SULAWESI TENGGARA — Kenaikan tipis IHSG terjadi meskipun terdapat sentimen positif dari penilaian terbaru Standard & Poor's (S&P) terhadap perekonomian Indonesia. Faktor ini belum cukup untuk menjinakkan aksi net sell yang masih mendominasi perdagangan.
Data menunjukkan bahwa dari total 963 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), kurang dari 10 persen yang dinilai layak sebagai aset investasi. Kondisi ini mendorong investor untuk lebih selektif dalam memilih saham.
Maraknya aksi penerbitan saham baru melalui rights issue di BEI menjadi perhatian utama pelaku pasar. Investor disarankan untuk mencermati efektivitas penggunaan dana hasil rights issue oleh emiten, bukan sekadar melihat aksi korporasi itu sendiri.
Analis menilai bahwa tekanan suku bunga tinggi masih menjadi faktor yang membuat saham-saham di sektor properti kehilangan daya tarik, meskipun kinerja keuangan sejumlah emiten di sektor tersebut masih tercatat positif.
Dari sisi korporasi, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) melalui entitas bisnisnya, PT Chandra Waste Energy, terpilih sebagai mitra dalam tender proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Proyek ini menjadi katalis positif bagi perseroan di tengah fokus pemerintah pada energi terbarukan.
Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dikabarkan tengah membidik akuisisi perusahaan panas bumi di Filipina dengan nilai mencapai US$ 5 miliar. Langkah ekspansi ini menunjukkan ambi BREN untuk memperkuat portofolio energi hijau di kawasan Asia Tenggara.
Nilai tukar rupiah tercatat menguat tipis pada perdagangan hari ini. Namun, proyeksi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mencapai Rp 734 triliun berpotensi menjadi sentimen pelemah ke depannya.
Pelaku pasar akan mencermati perkembangan data makroekonomi dan kebijakan fiskal pemerintah sebagai indikator pergerakan rupiah selanjutnya. Absennya foreign inflow, menurut analis, bukanlah alasan valid untuk mendiskreditkan reli IHSG karena secara historis faktor tersebut tidak pernah menjadi prasyarat utama.