SULAWESI TENGGARA — Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa pengambilalihan ini adalah langkah strategis membangun kekuatan baru di industri manajemen investasi. Dalam satu bulan ke depan, keempat entitas tersebut akan digabung menjadi satu perusahaan melalui proses merger.
"Danantara Indonesia akan memastikan seluruh kekuatan tersebut diarahkan melalui strategi dan tata kelola yang semakin baik agar mampu tumbuh lebih kuat, lebih kompetitif, dan memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia," ujar Dony dalam keterangan resminya.
Perusahaan hasil konsolidasi ini diyakini akan menjadi pemain tunggal terbesar di industri, sekaligus memperluas akses investasi bagi investor ritel dan institusi.
Dari sisi basis nasabah, BRI MI menjadi salah satu andalan. Per Juni 2026, BRI MI mencatatkan AUM sebesar Rp52,61 triliun dengan fondasi nasabah ritel yang kuat. Direktur Utama BRI MI, Arief Budiman, menyebut penggabungan ini sebagai momentum strategis untuk memperdalam penetrasi pasar ke masyarakat.
"Dengan kekuatan jaringan distribusi dan basis investor ritel yang terus berkembang, penggabungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya," kata Arief.
Sementara itu, BNI Asset Management membawa komposisi bisnis yang seimbang antara ritel dan institusi dengan AUM Rp29,59 triliun. Direktur Utama BNI AM, Ari Adil, menilai keseimbangan ini akan menjadi kekuatan utama dalam memperkuat kapabilitas perusahaan hasil merger.
PNM Investment Management, dengan AUM Rp10,31 triliun, melengkapi konsolidasi ini melalui pengalamannya mengembangkan investasi inklusif. Direktur Utama PNM IM, Ade Santoso Djajanegara, menegaskan bahwa kolaborasi ini tidak hanya memperkuat bisnis, tetapi juga memperluas akses layanan investasi kepada masyarakat yang selama ini belum tersentuh.
"Kami membangun institusi yang tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga mampu memperluas manfaat ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," ujar Ade.
Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi, Hardiyanto Pilia, menambahkan bahwa momentum pertumbuhan investor ritel dan kepercayaan institusi yang semakin kuat menjadi modal besar bagi entitas baru ini. "Perusahaan hasil konsolidasi akan menjadi mitra investasi pilihan bagi jutaan masyarakat Indonesia," pungkasnya.