BAUBAU — SD Negeri 2 Baadia, Kota Baubau, mencatatkan namanya sebagai wakil Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam ajang Sahabat Sekolah Dasar 2026 tingkat nasional. Sekolah ini lolos setelah bersaing dengan 129 sekolah dasar lainnya di tingkat provinsi dan menjadi satu dari dua sekolah yang dinyatakan layak mewakili daerah, bersama SD Negeri 12 Gu, Kabupaten Buton Tengah.
Keberhasilan ini berawal dari seleksi ketat yang dilakukan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Baubau. Dari enam sekolah dasar yang dijaring di kota tersebut, hanya SDN 2 Baadia yang berhasil melaju setelah mengirimkan video aktivitas peserta didik yang menggambarkan penerapan kebiasaan positif dalam keseharian.
Kepala SDN 2 Baadia, Nursida, S.Pd., M.Pd., mengatakan pihaknya memilih empat siswa kelas V yang dinilai memiliki kemampuan beragam. Mereka adalah Muhammad Nur Arafat Purnama di bidang Polisi Cilik (Pocil), Wa Ode Amiratun Azkiyani Mbone di cabang menyanyi solo, Yumn Mulyadin di cabang bulu tangkis, serta Anandita Zahra di lomba fashion show.
“Dari penjaringan itu kami menemukan empat anak yang memiliki berbagai karakter dan keterampilan. Ada yang menjadi Polisi Cilik, suka menyanyi solo, memiliki kemampuan di bidang fashion, hingga berprestasi dalam bulu tangkis melalui O2SN,” kata Nursida, Rabu (19/8/2026).
Muhammad Nur Arafat Purnama bahkan tengah menjalani pelatihan intensif di Polres Baubau untuk mendalami perannya sebagai Polisi Cilik. Keempat siswa tersebut juga disebut memiliki prestasi akademik sebagai juara kelas, menunjukkan keseimbangan antara kemampuan non-akademik dan akademik.
Bagi SDN 2 Baadia, program Sahabat Sekolah Dasar bukan sekadar kompetisi. Sekolah menjadikannya sarana membangun kebiasaan anak melalui tujuh pilar: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur tepat waktu.
Nursida menekankan bahwa pembentukan kebiasaan ini tidak bisa berjalan sendiri di sekolah. Pihaknya melibatkan orang tua melalui jurnal aktivitas harian untuk memantau penerapan kebiasaan tersebut di rumah.
“Kebiasaan bangun pagi tidak bisa hanya dilakukan oleh anak, tetapi harus bersinergi dengan orang tua. Karena itu kami membuat jurnal aktivitas harian yang diisi oleh orang tua,” ujarnya.
Pembina SDN 2 Baadia, Salmiani, S.Pd., menjelaskan proses seleksi dimulai dari video yang menggambarkan aktivitas siswa sejak bangun pagi hingga tidur tepat waktu, kemudian dilanjutkan dengan wawancara. Setelah ditetapkan sebagai Sahabat Sekolah Dasar tingkat nasional, sekolah mulai menyiapkan aksi nyata dengan melibatkan lingkungan pendidikan melalui sinergi sekolah, keluarga, masyarakat, dan media.
“Pencapaian ini menjadi motivasi bagi SD Negeri 2 Baadia untuk terus memperkuat pendidikan karakter dan membiasakan peserta didik menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari,” kata Salmiani.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Baubau, La Mane, mengapresiasi capaian tersebut. Ia menegaskan program ini tidak semestinya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus menjadi bagian dari perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
“Program ini merupakan perpaduan pembiasaan anak-anak dalam kehidupan sehari-hari yang bertujuan membentuk anak yang disiplin dan berakhlak mulia,” kata La Mane.
Capaian SDN 2 Baadia ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan tingkat provinsi serta pemasangan selempang kepada empat siswa yang akan mewakili Sultra pada kegiatan nasional. Secara nasional, Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat resmi diluncurkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 27 Desember 2024 sebagai bagian dari upaya membentuk generasi sehat, cerdas, dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045.