SULAWESI TENGGARA — Harga minyak Brent melonjak 3,86% ke US$103,08 per barel, kembali menembus level US$100 untuk pertama kalinya dalam periode terbaru. Kenaikan ini dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, yang kembali membayangi prospek penguatan rupiah di pasar spot. Di pasar Non-Deliverable Forward, rupiah masih defensif dengan penguatan terbatas 0,05% di posisi Rp17.886 per dolar AS.
Penguatan rupiah yang sempat terjadi di pasar spot kemarin berisiko kembali tertahan. Pasar energi global bergerak agresif setelah Brent menembus level psikologis US$100 per barel, dan tekanan itu merambat ke mata uang negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga minyak mentah dunia kali ini bukan dipicu oleh gangguan pasokan atau keputusan OPEC+. Pemicunya adalah eskalasi geopolitik antara Washington dan Teheran yang kembali memanas.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan Teheran tidak akan merespons ancaman dan menetapkan sejumlah persyaratan sebelum pembicaraan substantif dapat dilanjutkan. Sikap itu menunjukkan kesenjangan antara kedua pihak masih lebar, dan jalur diplomasi belum menunjukkan titik terang.
Walt Chancellor, ahli strategi energi di Macquarie Group, menilai optimisme pasar terhadap penyelesaian konflik secara cepat sudah menguap.
"Optimisme terhadap solusi diplomatik yang cepat untuk perang dan gangguan energi yang ditimbulkan tampaknya telah mereda secara signifikan," kata Chancellor, seperti dikutip Bloomberg News.
Bagi pasar keuangan, pernyataan itu menjadi sinyal bahwa premi risiko geopolitik pada harga minyak belum akan turun dalam waktu dekat. Selama ketegangan AS-Iran belum mereda, harga energi cenderung bertahan di level tinggi.
Tekanan dari harga minyak terlihat merata di kawasan. Sebagian besar mata uang Asia melemah, hanya sedikit yang menguat secara terbatas.
Pola ini mencerminkan investor masih mencari aset safe haven di tengah ketidakpastian. Yen dan dolar Hong Kong mendapat aliran masuk, sementara mata uang negara produsen komoditas dan ekonomi terbuka justru jadi sasaran aksi jual.
Di pasar Non-Deliverable Forward, rupiah hanya menguat 0,05% ke level Rp17.886 per dolar AS. Penguatan yang sangat tipis itu menunjukkan pasar belum yakin rupiah bisa keluar dari tekanan dalam jangka pendek.
Pasar NDF biasanya menjadi cerminan ekspektasi investor asing terhadap pergerakan rupiah beberapa pekan ke depan. Penguatan yang nyaris datar mengindikasikan pelaku pasar masih menahan posisi, menunggu perkembangan harga minyak dan sinyal kebijakan dari Bank Indonesia.
Bagi pelaku usaha yang punya eksposur impor bahan baku atau utang dalam dolar AS, kondisi ini memperbesar risiko biaya. Kebutuhan lindung nilai (hedging) menjadi pertimbangan yang semakin relevan selama harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.
Dua variabel utama akan menentukan arah rupiah dalam beberapa sesi ke depan. Pertama, apakah harga Brent bertahan di atas US$100 atau justru terkoreksi jika ada sinyal deeskalasi dari Teheran maupun Washington. Kedua, respons Bank Indonesia di pasar valas untuk menjaga stabilitas kurs.
Investor obligasi dan saham perbankan perlu memperhatikan dampak lanjutan dari pelemahan rupiah terhadap biaya dana dan margin. Sementara importir dan perusahaan dengan utang valas menghadapi tekanan yang lebih langsung dari pergerakan kurs.
Selama ketegangan geopolitik belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap sempit. Pasar akan menunggu apakah ada kejutan baru dari front diplomasi yang bisa mengubah arah harga minyak dan sentimen risiko global.