SULAWESI TENGGARA — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya sekitar 3 persen pada 2026, tertahan konflik geopolitik yang belum mereda. Perbaikan baru diproyeksikan terjadi pada 2027 dengan pertumbuhan mencapai 3,4 persen, seiring meredanya tekanan perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah.
Proyeksi tersebut disampaikan Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (28/9). Menurutnya, sejumlah lembaga internasional menunjukkan arah yang sama: ekonomi dunia baru akan pulih tahun depan.
Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan global 2,8 persen pada 2027, naik dari 2,5 persen pada 2026. IMF memperkirakan angka yang lebih tinggi lagi, yakni 3,4 persen pada 2027 dibandingkan sekitar 3 persen pada 2026.
Konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina disebut Destry sebagai pemicu utama kenaikan harga komoditas dunia, terutama minyak dan gas. Inflasi global saat ini diperkirakan mencapai 4,6 persen.
Tekanan harga tersebut memaksa bank sentral di berbagai negara mengetatkan kebijakan moneter. The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September 2026.
"Saya gambarkan bahwa prospek ekonomi 2026 ini secara global memang agak gloomy. Namun demikian, di 2027 diperkirakan akan ada perbaikan," ujar Destry.
Suku bunga global yang tinggi mendorong perpindahan modal dari negara berkembang ke aset yang dinilai lebih aman, seperti dolar AS dan emas. Fenomena ini dikenal sebagai flight to quality.
Destry menyebut kondisi itu bisa memengaruhi aliran modal masuk serta neraca pembayaran negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Kesimpulannya di global ini kita akan menghadapi situasi atau fenomena yang dinamakan higher for longer, yang pada akhirnya ini akan memberikan tekanan kepada negara emerging market, khususnya terkait dengan aliran modal yang masuk ke negara emerging market, termasuk Indonesia," tuturnya.
BI melihat tekanan tersebut berpotensi berbalik pada 2027 apabila konflik geopolitik mulai mereda. Perbaikan kondisi global akan membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih tinggi.
Bagi investor di pasar domestik, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap nilai tukar dan arus modal asing masih perlu diantisipasi dalam beberapa kuartal ke depan. Pergerakan dolar AS dan harga emas akan tetap menjadi acuan utama dalam membaca arah modal masuk ke Indonesia.