SULAWESI TENGGARA — Google Photos akhirnya menghadirkan fitur Redact yang memungkinkan pengguna menyensor data sensitif seperti nomor rekening atau wajah hanya dengan satu kali usapan. Fitur ini menjawab keluhan lama pengguna Android yang selama ini harus menutupi informasi pribadi pakai coretan marker yang berantakan dan rawan bocor. Sayangnya, kehadirannya baru mengejar ketertinggalan dari Apple yang sudah lebih dulu punya alat serupa di iOS 18.
Google Photos belakangan memang gencar menambah fitur pintar, mulai dari penyortiran lemari pakaian berbasis AI sampai preset filter bergaya vintage. Dari sekian banyak pembaruan itu, ada satu tambahan sederhana yang justru paling terasa manfaatnya untuk pemakaian harian: alat Redact. Fitur ini menyasar pengguna Android yang sering membagikan screenshot berisi informasi pribadi dan butuh cara cepat untuk menutupinya.
Selama ini, menutupi teks rahasia atau wajah di screenshot memang bisa dilakukan, tapi hasilnya sering terlihat asal-asalan. Coretan marker tebal tidak hanya merusak tampilan gambar, tetapi juga berisiko gagal menutup detail sensitif sepenuhnya. Alat Redact menggantinya dengan blur piksel yang lebih rapi dan aman.
Apple sudah lebih dulu membekali iOS 18 dengan alat pemburaman wajah bawaan, sehingga pengguna iPhone bisa menyensor foto langsung dari galeri tanpa aplikasi tambahan. Google baru mengejar sekarang lewat Redact, meski fungsinya tergolong mendasar untuk kebutuhan privasi sehari-hari.
Keterlambatan ini cukup terasa karena pengguna Android kerap mengandalkan screenshot untuk berbagi informasi, mulai dari bukti transfer, struk belanja, sampai tangkapan layar percakapan. Tanpa alat sensor yang layak, data seperti nomor rekening atau nomor telepon gampang ikut tersebar.
Prosesnya cukup singkat dan tidak butuh aplikasi pihak ketiga. Buka foto atau screenshot yang ingin diedit di Google Photos, lalu masuk ke menu Edit dan pilih bagian Markup.
Pilihan Save as copy penting diperhatikan. Dengan menyimpan sebagai salinan, foto asli tanpa sensor tetap tersimpan di galeri, sehingga pengguna tidak kehilangan versi bersihnya saat ingin mengedit ulang di kemudian hari.
Meski praktis, alat ini bukan solusi tanpa cela. Blur piksel bersifat permanen pada salinan yang disimpan, jadi kalau area yang disensor terlalu luas atau salah posisi, pengguna harus mengulang dari foto asli. Ketebalan kuas juga perlu disesuaikan manual, karena kuas yang terlalu tipis berisiko menyisakan celah di tepi teks.
Fitur Redact saat ini menyasar perangkat Android, sejalan dengan posisi Google Photos sebagai aplikasi galeri bawaan di ekosistem tersebut. Pengguna yang terbiasa berpindah antara Android dan perangkat lain tetap perlu memeriksa ketersediaan alat ini di versi aplikasi masing-masing, karena peluncuran fitur Google kerap bergulir bertahap antar wilayah.
Sebelumnya, pengguna bisa memakai aplikasi edit foto pihak ketiga untuk menyensor informasi, tapi langkahnya lebih panjang dan hasilnya belum tentu konsisten. Menyatukan alat sensor langsung di dalam Google Photos memangkas proses itu jadi beberapa ketukan saja.
Bagi pengguna yang sering mengirim screenshot ke grup keluarga, rekan kerja, atau media sosial, kehadiran Redact menutup celah privasi yang cukup sering diabaikan. Fitur ini bukan pembaruan yang mengubah cara orang memakai ponsel, tapi justru jenis tambahan kecil yang dipakai berulang kali tanpa disadari.