KONAWE — Insiden tersebut terungkap setelah Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Konawe Yones melakukan inspeksi mendadak ke Puskesmas Tongauna. Dalam sidak itu, Kepala Puskesmas Tongauna Santi memberikan penjelasan mengenai penyebab ambulans tidak bisa dipakai saat pasien membutuhkan rujukan.
Kunci ambulans disebut tercecer dan baru ditemukan pada Selasa siang, bertepatan dengan hari sidak berlangsung. Pasien akhirnya dibawa ke RS Setia Bunda Unaaha menggunakan mobil pikap.
Santi menjelaskan penggunaan pikap merupakan langkah cepat agar pasien segera mendapat penanganan di rumah sakit. Alternatif memakai mobil minibus jenis Avanza dinilai tidak memadai.
Tabung oksigen disebut tidak muat di dalam kendaraan tersebut. Kondisi ini membuat petugas memilih pikap sebagai kendaraan rujukan darurat.
Yones menegaskan persoalan kunci bukan perkara sepele. Dalam pelayanan kesehatan, kesiapan kendaraan rujukan merupakan bagian penting dari respons terhadap pasien yang butuh penanganan lanjutan.
"Penyebabnya hanya persoalan kunci mobil ambulans yang tercecer, dan nanti siang ini baru didapatkan," ungkap Yones dalam keterangan tertulisnya.
Yones tidak menampik adanya kelalaian dalam insiden tersebut. Menurutnya, pihak puskesmas seharusnya lebih peka dan sigap menghadapi kebutuhan rujukan pasien.
"Ini adalah kelalaian puskesmas, tidak peka dan sigap hanya karena salah satunya kunci mobil ambulans," tegas Yones.
Pernyataan Kadinkes Konawe itu memperjelas bahwa masalah ini bukan sekadar polemik akibat video viral di media sosial. Ada persoalan kesiapan operasional yang perlu dijelaskan dan dibenahi.
Menindaklanjuti insiden tersebut, Yones mengaku telah menginstruksikan seluruh kepala puskesmas se-Kabupaten Konawe meningkatkan kesiapsiagaan. Kejadian di Tongauna dijadikan bahan evaluasi.
"Sudah saya sampaikan ke semua kepala puskesmas se-Kabupaten Konawe untuk menjadi perhatian agar sigap dengan pelayanan cepat," pungkasnya.
Instruksi tersebut menyasar sejumlah hal: evaluasi pengelolaan kunci kendaraan, pemeriksaan kesiapan ambulans, penetapan petugas yang bertanggung jawab, hingga penyediaan prosedur alternatif ketika armada utama tidak dapat digunakan.
Dalam kondisi pasien membutuhkan rujukan, setiap hambatan harus ditangani cepat dan terukur. Keputusan memakai kendaraan alternatif pun mesti mempertimbangkan kondisi klinis pasien, keamanan selama perjalanan, serta kebutuhan peralatan medis.