SULAWESI TENGGARA — Camino de Flores 2026 menyusuri rute Bajawa, Kabupaten Ngada, hingga Ende, Nusa Tenggara Timur, selama 23-27 Oktober 2026 dengan memadukan wisata religi, sejarah, budaya, dan alam. Perjalanan ziarah ini dirancang melewati desa-desa agar wisatawan tinggal lebih lama dan belanja langsung ke pelaku lokal. Program ini digadang menjadi pendorong pemulihan ekonomi Flores pascagempa.
Kementerian Pariwisata bersama inisiator Mari Elka Pangestu menyiapkan Camino de Flores sebagai perjalanan ziarah lintas kabupaten yang menyentuh langsung perekonomian warga desa. Rute yang ditempuh tidak memusatkan kunjungan di satu titik, melainkan menyebar dari Bajawa di Kabupaten Ngada sampai Ende.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menargetkan perputaran uang tidak lagi menumpuk di pelaku industri besar. Harapannya, wisatawan yang singgah lebih lama membelanjakan uang di homestay, pengrajin tenun, dan pemandu wisata lokal di sepanjang jalur.
Tanggal dan Rute Perjalanan
Camino de Flores dijadwalkan berlangsung 23-27 Oktober 2026, atau lima hari perjalanan. Titik awal berada di Bajawa, Kabupaten Ngada, lalu bergerak menuju Ende sebagai titik akhir.
Sepanjang rute, peserta akan melewati desa-desa dengan latar tradisi masyarakat Flores yang jadi modal sosial dan spiritual kegiatan ini. Belum ada informasi resmi soal kuota peserta maupun harga paket dari bahan yang tersedia.
Kombinasi Wisata Religi, Sejarah, Budaya, dan Alam
Konsep perjalanan ini menggabungkan ziarah dengan penelusuran sejarah dan budaya setempat. Menpar Widi menilai pendekatan tersebut relevan dengan kondisi Flores yang baru dilanda gempa.
"Di sinilah pariwisata mengambil peran strategis dalam rangka pemulihan dan penguatan ekonomi daerah setelah bencana yang melanda sebuah daerah, seperti halnya pascagempa di Flores baru-baru ini," ucap Menpar Widi dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pariwisata, Selasa (13/10/2026).
Ia menambahkan Flores punya modal sosial dan spiritual yang berakar kuat dalam tradisi masyarakatnya. Kombinasi itu yang dinilai bisa menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Dampak Ekonomi yang Dibidik
Mari Elka Pangestu menyebut manfaat Camino de Flores menyebar ke banyak sektor. Homestay, ekonomi kreatif, pengrajin tenun, hingga pemandu wisata lokal masuk dalam rantai manfaat tersebut.
"Kita bisa mengembangkan homestay dan sangat erat kaitannya dengan ekonomi kreatif dan orang-orang kreatif setempat, apakah pengrajin tenun, pekerja di sektor pariwisata seperti pemandu wisata lokal, dan lainnnya," jelas Mari.
Menteri Pariwisata periode 2011-2014 itu menekankan lama tinggal wisatawan sebagai kunci. Semakin lama singgah, semakin besar perputaran ekonomi yang terjadi langsung di desa-desa yang dilalui.
"Length of stay akan meningkat dan tentu perputaran ekonomi terjadi langsung di desa-desa yang dilalui, inilah pariwisata yang inklusif, yang berbasis masyarakat dan yang berkelanjutan," sambung Mari.
Pergeseran Tren Wisatawan
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini melihat wisatawan kini mencari pengalaman mendalam, bukan sekadar berfoto di destinasi. Camino de Flores dinilai cocok dengan tren tersebut.
"Indonesia itu dengan pulau yang luas, dengan budaya yang beragam, ini yang perlu kita sampaikan kepada dunia. Ketika mereka datang ke Indonesia inilah hal-hal spesial yang mereka dapatkan," sebutnya.
Tips Menyiapkan Perjalanan
- Catat tanggal 23-27 Oktober 2026 dan siapkan waktu lima hari penuh untuk menuntaskan rute Bajawa-EndE.
- Pantau pengumuman resmi Kementerian Pariwisata soal kuota, harga paket, dan cara pendaftaran karena belum dirilis.
- Pertimbangkan menginap di homestay warga agar uang belanja langsung masuk ke desa yang dilalui.
- Bawa perlengkapan ziarah dan pakaian sopan mengingat kegiatan menyentuh situs religi dan tradisi lokal.
Durasi lima hari membuat Camino de Flores cocok untuk traveler yang ingin menyusuri Flores secara perlahan, bukan sekadar singgah sehari di Labuan Bajo. Informasi terkini soal pendaftaran dan paket perjalanan dapat dikonfirmasi ke Kementerian Pariwisata atau dinas pariwisata NTT.