SULAWESI TENGGARA — Kebakaran dilaporkan terjadi sekitar pukul 22.58 WIB. Api dengan cepat membesar karena bangunan tidak hanya dihuni, tetapi juga berfungsi sebagai tempat usaha dan kos-kosan. Empat unit sepeda motor di lantai satu ikut terbakar, mempercepat perambatan api.
Petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi enam menit setelah laporan, pada pukul 23.04 WIB. Namun, proses pemadaman terkendala akses jalan. Gang menuju lokasi hanya selebar tiga meter, tidak bisa dilalui mobil pemadam berukuran besar.
"Petugas harus menarik selang dari jarak sekitar 60 meter sambil mengevakuasi penghuni di tengah kepulan asap tebal," ungkap petugas Command Center 112 dalam keterangannya, Selasa (26/5). Sebanyak 17 unit dikerahkan untuk menjinakkan api hingga dini hari.
Setelah api berhasil dikendalikan, petugas melakukan penyisiran di dalam bangunan. Suamah ditemukan di kamar mandi lantai satu, sementara Muhammad Azzam ditemukan di kamar mandi lantai dua. Diduga keduanya berusaha menyelamatkan diri saat asap mulai memenuhi ruangan.
Selain dua korban meninggal, dua warga lainnya mengalami luka. Meiga Dita Fisilia (39) mengalami luka robek di tangan kanan, sementara penghuni kos Tiwuk Suryati (46) mengalami dislokasi pada kedua kaki. Keduanya sedang menjalani perawatan.
Berdasarkan pemeriksaan awal di lokasi, kebakaran diduga dipicu korsleting listrik saat pengisian daya motor listrik. Kepulan asap dan api yang membesar secara tiba-tiba membuat penghuni tidak sempat menyelamatkan barang berharga. Tangis keluarga mewarnai proses evakuasi jenazah.
Insiden di Bukit Molin kembali menegaskan kerentanan permukiman padat penduduk di Surabaya terhadap bencana kebakaran. Akses jalan yang sempit dan bangunan yang digunakan multifungsi kerap menjadi faktor penghambat penanganan. Belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Surabaya terkait langkah antisipasi ke depan.