KENDARI — Laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengonfirmasi tren positif industri jasa keuangan di Sulawesi Tenggara pada awal 2026. Kepala OJK Sultra, Bismi Maulana Nugraha, menyebut intermediasi perbankan, aktivitas investasi, dan layanan keuangan digital menjadi motor utama pertumbuhan tersebut.
“Pertumbuhan ini ditopang oleh intermediasi perbankan yang terus meningkat, aktivitas investasi masyarakat di pasar modal, serta pemanfaatan layanan keuangan digital yang semakin luas,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Kredit UMKM Capai Rp16,45 Triliun, NPL Terjaga 1,85 Persen
Dari sektor perbankan, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat Rp33,76 triliun atau naik 5,25 persen secara tahunan. Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 4,86 persen menjadi Rp54,43 triliun. Kredit konsumsi masih mendominasi dengan porsi 48,5 persen, disusul kredit modal kerja 32 persen dan kredit investasi 19,6 persen.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) di level rendah, 1,85 persen. Penyaluran kredit ke sektor UMKM mencapai Rp16,45 triliun, setara 30,2 persen dari total kredit. Sektor rumah tangga, perdagangan, pertanian, industri pengolahan, dan pertambangan menjadi penopang utama.
Secara geografis, Kota Kendari masih menjadi pusat aktivitas perbankan dengan total kredit Rp23,09 triliun dan DPK Rp20,45 triliun.
Investor Pasar Modal Melonjak 76,1 Persen, Nilai Transaksi Capai Rp447,92 Miliar
Minat investasi masyarakat Sultra meningkat signifikan. Hingga Maret 2026, jumlah investor yang tercatat dalam Single Investor Identification (SID) mencapai 156.131, tumbuh 76,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan investor reksa dana, saham, dan Surat Berharga Negara (SBN).
Nilai transaksi saham masyarakat mencapai Rp447,92 miliar dengan frekuensi 134.502 transaksi. Kota Kendari kembali menjadi wilayah dengan aktivitas investor terbesar, diikuti Kabupaten Kolaka dan Kota Baubau.
Fintech Lending Tumbuh 28,4 Persen, OJK Optimistis Sektor Keuangan Berkelanjutan
Di sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), kinerja menunjukkan tren stabil. Industri asuransi membukukan premi Rp168,70 miliar. Perusahaan pembiayaan mencatat outstanding Rp6,90 triliun atau tumbuh 2,99 persen secara tahunan, dengan rasio Non-Performing Financing (NPF) terjaga di level 2,65 persen.
Sektor fintech lending mencatat pertumbuhan pesat. Outstanding pinjaman mencapai Rp804,60 miliar, naik 28,4 persen secara tahunan. “Hal ini menunjukkan layanan keuangan digital semakin dimanfaatkan masyarakat seiring meningkatnya inklusi keuangan berbasis teknologi di Sultra,” jelas Bismi.
Dengan capaian tersebut, OJK optimistis sektor jasa keuangan di Sulawesi Tenggara akan terus tumbuh berkelanjutan, sekaligus mendorong penguatan ekonomi daerah di tengah tantangan global.