SULAWESI TENGGARA — Platform streaming Paramount+ kembali menjadi sorotan setelah thumbnail untuk film klasik Star Trek II: The Wrath of Khan diduga dibuat menggunakan generative AI. Gambar yang diunggah tersebut memperlihatkan Kapten James T. Kirk, yang diperankan William Shatner, mengenakan setelan jas dan dasi. Padahal, dalam film asli yang dirilis tahun 1982, Kirk tidak pernah mengenakan pakaian tersebut.
Laporan dari Kotaku mengungkapkan bahwa gambar wajah Kirk yang digunakan dalam thumbnail berasal dari adegan retinal scan di film tersebut. Dalam adegan itu, Kirk tengah memindai matanya untuk mengakses file komputer dan masih mengenakan seragam Starfleet. Namun, karena bidikan asli hanya menampilkan wajah dari dekat, Paramount+ diduga menggunakan generative AI untuk menambahkan tubuh palsu dan mengganti pakaiannya menjadi jas.
Seniman Ryan Estrada berspekulasi bahwa tim platform streaming itu mungkin ingin menyorot ekspresi Kirk dari adegan tersebut. Sayangnya, hasil akhirnya justru membuat rambut Kirk terlihat aneh dan latar belakang gambar tampak janggal. Hingga berita ini ditulis, thumbnail kontroversial tersebut masih bisa diakses di Paramount+.
Bagi penggemar Star Trek, ketidakakuratan ini bukan sekadar masalah estetika. Alam semesta Star Trek dikenal dengan visi masa depan tanpa uang, sehingga keberadaan setelan jas bisnis dianggap tidak masuk akal secara naratif. Keputusan menggunakan AI untuk mengubah materi sumber justru merusak konsistensi visual yang sudah mapan selama puluhan tahun.
CEO Paramount, David Ellison, sebelumnya menyatakan kepada CNBC bahwa perusahaannya "menggunakan teknologi untuk mentransformasi setiap aspek bisnis." Namun, insiden ini menunjukkan bahwa penerapan AI yang ceroboh bisa berbalik menjadi bumerang, terutama ketika berhadapan dengan basis penggemar yang sangat detail dan kritis.
Kasus ini bukanlah yang pertama di industri hiburan. Beberapa studio sebelumnya juga pernah tertangkap basah menggunakan AI untuk membuat poster atau aset promosi, yang berujung pada kritik serupa. Perbedaannya, Star Trek memiliki warisan penggemar yang sangat vokal. Banyak dari mereka yang kini justru menyarankan untuk membeli versi Blu-Ray film tersebut sebagai bentuk protes terhadap kualitas konten streaming yang dinilai menurun.
Fenomena ini juga menyoroti risiko penggunaan AI generatif untuk konten yang sudah memiliki referensi visual yang jelas. Alih-alih menghemat biaya, langkah ini justru bisa menurunkan kepercayaan terhadap kualitas kurasi platform.
Apakah Paramount+ sengaja menggunakan AI untuk thumbnail ini?
Belum ada pernyataan resmi dari Paramount+ mengenai proses pembuatan thumbnail tersebut. Namun, analisis dari seniman dan jurnalis menunjukkan bahwa gambar yang dihasilkan memiliki ciri khas hasil generative AI, seperti detail rambut yang tidak wajar dan pencahayaan yang tidak konsisten.
Apakah penggunaan AI untuk materi promosi akan menjadi tren?
Sejumlah perusahaan media memang mulai mengadopsi AI untuk tugas-tugas kreatif guna menekan biaya produksi. Namun, kasus Star Trek II menjadi peringatan bahwa teknologi ini harus digunakan dengan pengawasan manusia yang ketat, terutama untuk waralaba dengan basis penggemar yang sensitif terhadap detail.
Bagi penggemar Star Trek di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa tidak semua konten yang dihasilkan oleh AI bisa diandalkan. Jika Anda adalah kolektor atau penggemar berat, versi fisik seperti Blu-Ray masih menjadi pilihan terbaik untuk menikmati film dengan kualitas gambar dan akurasi visual yang terjamin.