Tim UPN Yogyakarta Temukan Sumber Api Misterius di Sleman: Gas Metana dari Batuan Gelap 300 Meter dari Rumah Warga

Penulis: Toni Haryadi  •  Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:24:01 WIB
Tim UPN Yogyakarta menemukan sumber gas metana di batuan gelap sekitar 300 meter dari rumah warga di Sleman.

SULAWESI TENGGARA — Dekan FTME UPN Veteran Yogyakarta, Prof. Dr. Ir. RM. Basuki Rahmad, mengungkapkan hasil investigasi timnya pada Sabtu (30/5) di lokasi kebakaran misterius yang sempat menghanguskan rumah milik warga bernama Agus. Tim berjalan sekitar 300 meter dari rumah tersebut dan menemukan sebuah sungai dengan singkapan batuan berwarna gelap yang mengandung genangan air. Di dalam genangan itulah terlihat gelembung-gelembung gas.

Indikasi Kuat Gas Metana dari Rawa Purba

"Kami amati batuan tersebut, di dalam batuan itu terlihat seperti batuan dengan warna gelap. Di dalam singkapan batuan ada genangan air. Kami lacak ada indikasi gelembung-gelembung gas," kata Basuki dalam keterangannya.

Tim kemudian melakukan pengecekan manual menggunakan paralon untuk mengukur tekanan gas. Hasilnya, meskipun semburan gas tergolong lemah, saat paralon dicabut, gas langsung menyembur keluar dari bawah air. "Jadi indikasi kuat sumber gas ini adalah gas metana dari rawa," tambahnya.

Menurut Basuki, wilayah tersebut diduga merupakan bekas rawa di masa lalu. Batuan gelap yang ditemukan berfungsi sebagai reservoir penyimpan gas. Ketika tekanan di dalam batuan jenuh, gas akan melakukan rilis secara alami, bergerak, dan bermigrasi mengikuti celah-celah tanah.

Jalur Retakan Tanah dan Migrasi Gas ke Rumah Warga

Investigasi lanjutan mengungkap adanya indikasi patahan dan retakan-retakan tanah yang mengarah ke utara, tepat menuju rumah Pak Agus. "Hal ini salah satu indikasi kuat batuan wilayah ini dulunya memang bekas rawa dan ini batuannya warnanya gelap ini sebagai tempat tersimpannya gas. Gas ini bisa sampai ke rumah Pak Agus karena gas ketika di dalam batuan jenuh, dia akan terus melakukan rilis, bergerak, dan bermigrasi," jelasnya.

Meskipun saat ini api sudah tidak muncul dan kandungan gas dinilai menurun, tim masih akan melakukan pemantauan selama satu bulan ke depan. "Setelah itu, kita lihat kalau memang sudah enggak ada semburan gas lagi, mungkin kita klasifikasi bencana musibah ini bisa sedang atau ringan. Kita pantau lagi," ujar Basuki.

Mitigasi: Warga Diminta Tinggal di Lantai Dua dan Rekaman Geofisika

Basuki memastikan gas metana yang ditemukan tidak berbahaya karena memiliki tekanan rendah. Namun, untuk mengantisipasi kemungkinan migrasi gas ke lokasi lain, tim dari UPN bersama Dinas ESDM akan melakukan rekaman geofisika. Langkah ini bertujuan untuk memetakan kondisi bawah permukaan, mengetahui besar reservoir gas, serta arah retakan yang ada. "Jadi, nanti bisa untuk mitigasi Pak Bupati untuk pemukiman-pemukiman yang seperti pertanyaan Bapak akan mengarah ke mana, nanti langkah selanjutnya memang kita lakukan rekaman geofisika," ucapnya.

Sebagai langkah antisipasi jangka pendek, Basuki menyarankan keluarga Pak Agus untuk sementara waktu tinggal di lantai dua rumah dan mengosongkan lantai satu. "Saran kami untuk pak Agus untuk sementara waktu tinggal di lantai dua rumah dulu. Lantai satu dikosongkan dulu selama sebulan ke depan, kondisi saat ini sudah tidak muncul api. Sambil nanti kami pantau perkembangannya," tuturnya.

Reporter: Toni Haryadi
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top