SULAWESI TENGGARA — Nadiem Makarim, pendiri Gojek yang menjabat sebagai Mendikbudristek pada 2019-2024, menyampaikan pleidoi di hadapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta. Dalam pernyataannya, ia menyinggung ironi antara penghargaan tertinggi negara dengan proses hukum yang kini menjeratnya.
"Bayangkan betapa hancurnya hati saya. Setelah mendapatkan penghormatan tertinggi negara, Bintang Mahaputera Adipradana, 'hadiah' yang saya dapatkan dari negara adalah jeruji besi," kata Nadiem dalam sidang yang digelar Selasa (2/6).
Ia juga menyoroti tuntutan perampasan aset yang diajukan jaksa. Menurut Nadiem, aset tersebut berasal dari hasil kerja kerasnya selama satu dekade membangun Gojek, perusahaan yang menciptakan jutaan lapangan pekerjaan di Indonesia. "'Hadiah' yang saya dapatkan adalah perampasan hasil usaha saya selama 10 tahun," ujarnya.
Dalam pleidoinya, Nadiem mengaku telah mempertaruhkan banyak hal sejak memutuskan masuk kabinet Presiden Joko Widodo. Ia menyebut kondisi keuangan, reputasi, hingga ketenangan keluarganya menjadi taruhan. "Justru karena saya sudah dianugerahi Allah kemapanan finansial, rasa tanggung jawab saya kepada negara menjadi lebih besar," kata dia.
Nadiem menanggapi komentar publik yang menyesali keputusannya meninggalkan Gojek. "Banyak yang berkomentar, 'Salah Nadiem cuma satu: mau menjadi menteri padahal sudah nyaman di Gojek'," katanya menirukan kritik yang beredar. Ia justru menilai cara pandang tersebut keliru. "Kalau semua orang berprestasi menolak amanah untuk mengabdi karena sudah nyaman, apa jadinya masa depan negara kita?"
Pendiri Gojek itu menekankan bahwa peluang mencari penghasilan akan selalu ada dalam hidupnya. Namun, kesempatan melakukan perubahan besar bagi dunia pendidikan nasional, menurut dia, tidak datang dua kali. "Kesempatan mencari uang akan selalu ada. Tetapi kesempatan melakukan lompatan besar untuk generasi penerus bangsa hanya akan datang sekali dalam hidup," tuturnya.
Di akhir pernyataan, Nadiem menyampaikan harapan agar anak-anaknya kelak memahami pilihannya. "Saya harap di kemudian hari anak-anak saya akan menonton pleidoi ini dan meyakini bahwa ayahnya tidak pernah menyesal mengabdi kepada negara," ujarnya. Ia kemudian melontarkan pertanyaan bernada reflektif kepada majelis hakim. "Apakah negara sekejam ini kepada abdinya?" kata Nadiem.