Warga Tobimeita Kendari Patungan Rp 25 Juta Perbaiki Jalan 3 Km, Jenuh dengan Janji Pemerintah yang Tak Kunjung Terealisasi

Penulis: Reza Maulana  •  Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:07:02 WIB
Warga Tobimeita Kendari bergotong royong memperbaiki jalan sepanjang 3 km dengan dana patungan Rp 25 juta.

KENDARI — Jalan sepanjang tiga kilometer yang melintasi RT 03, RT 07, RT 09, RT 10, dan RT 11 di Kelurahan Tobimeita belum pernah diaspal sama sekali. Kondisi ini memaksa warga merogoh kocek sendiri untuk membeli material dan melakukan perbaikan secara gotong royong.

Musim Kemarau Makan Debu, Musim Hujan Jadi Kubangan Lumpur

Opung, warga Tobimeita, meluapkan kekesalannya saat ditemui pewarta, Kamis (28/5/2026). Ia menceritakan bagaimana jalanan berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan dan menyebarkan debu tebal ketika kemarau.

“Sudah berapa kali kami sampaikan aspirasi ini, tapi jalanan kami belum pernah diaspal. Kalau musim panas, kami harus makan debu setiap hari. Sebaliknya, kalau musim hujan datang, jalanan berubah jadi becek dan berlumpur seperti kubangan,” keluh Opung.

Ia menegaskan bahwa warga Tobimeita memiliki hak yang sama sebagai penduduk ibu kota provinsi untuk menikmati infrastruktur yang layak.

Musrenbang Hanya Jadi Agenda Tahunan Tanpa Realisasi

Ketua RT 10, Rosnani, membenarkan bahwa usulan perbaikan jalan selalu menjadi prioritas utama dalam setiap Musrenbang. Namun, realisasinya selalu nihil. Ia bahkan menyebut tim dari kelurahan dan dinas terkait sempat datang untuk melakukan pengukuran, tetapi tidak ada tindak lanjut.

“Kita sudah jenuh. Tiap tahun di Musrenbang itu terus yang kita usulkan. Sudah pernah datang diukur, eh ternyata tidak jadi lagi,” ujar Rosnani, Selasa (20/1/2026).

Kekecewaan warga semakin dalam karena lambatnya respons memicu dugaan bahwa anggaran perbaikan jalan telah dialihkan ke lokasi lain. Wilayah Tobimeita disinyalir dianggap “belum mendesak” oleh pemerintah—sebuah klaim yang dinilai melukai rasa keadilan warga.

Ancaman Lumpuh Ekonomi dan Minim Penerangan Jalan

La Ode, warga Tobimeita lainnya, mengungkapkan bahwa aksi patungan ini terpaksa dilakukan karena warga tak bisa lagi mengandalkan pemerintah. Ia khawatir aktivitas ekonomi dan mobilitas warga akan lumpuh total jika terus menunggu.

“Kami harus merogoh kocek sendiri untuk membangun dan memperbaiki jalan ini. Kalau terus-menerus menunggu pemerintah yang tidak kunjung datang, aktivitas ekonomi dan mobilitas kami di sini bisa lumpuh total,” ujar La Ode kecewa, Sabtu (6/6/2026).

Di RT 10 saja terdapat sekitar 50 kepala keluarga dan di RT 11 mencapai hampir 60 KK yang setiap harinya bergantung pada akses jalan tersebut. Penderitaan warga kian bertambah karena kawasan itu juga minim penerangan jalan, sehingga malam hari menjadi gelap gulita dan mengancam keselamatan anak-anak yang hendak ke sekolah serta warga yang membutuhkan akses cepat ke layanan kesehatan darurat.

Warga Mendesak Pembuktian Nyata dari Pemkot Kendari

Masyarakat Tobimeita kini hanya bisa berharap agar Pemerintah Kota Kendari memberikan pembuktian nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Mereka menuntut pengaspalan segera direalisasikan dan mendesak agar pembangunan di Kota Kendari dilakukan secara merata, bukan tebang pilih akibat lambatnya birokrasi di tingkat kelurahan.

Hingga berita ini diterbitkan, pewarta masih berusaha menghubungi pihak Kelurahan Tobimeita dan dinas terkait untuk mendapatkan tanggapan atas keluhan dan tudingan slow respon dari masyarakat.

Reporter: Reza Maulana
Sumber: radarkendari.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top