SULAWESI TENGGARA — Polisi Lalu Lintas New South Wales (NSW) menghentikan aksi nekat seorang pengemudi remaja pada 6 Juni lalu dalam operasi penegakan hukum liburan. Pengemudi pemegang lisensi P1 itu kedapatan melaju 187 km/jam di jalan dengan batas kecepatan 80 km/jam. Yang membuat petugas geleng-geleng kepala adalah alasan yang ia berikan saat dicegat.
"Tidak mungkin saya yang melaju kencang, mobil saya tidak bisa mencapai kecepatan segitu," kata remaja tersebut kepada polisi, seperti dikutip dari pernyataan resmi Traffic and Highway Patrol Command – NSW Police Force.
Klaim sang remaja ternyata mudah dipatahkan. Hyundai secara resmi mencantumkan kecepatan maksimum i30 generasi saat itu di angka 196 km/jam. Meski bukan model sport, hatchback dengan mesin 118 tenaga kuda ini secara teknis mampu menembus 187 km/jam yang terekam radar polisi.
Ini bukan kali pertama kecepatan maksimum Hyundai menjadi perdebatan hukum. Sekitar 20 tahun lalu, kamera tilang di Arizona, Amerika Serikat, merekam Hyundai Sonata V-6 melaju 237 km/jam, memicu pertanyaan serupa di pengadilan tentang kemampuan puncak mobil tersebut.
Masalah remaja ini tidak berhenti di speeding ticket. Tes narkoba yang dilakukan petugas menunjukkan ia positif menggunakan ganja, dan ia mengaku mengonsumsinya pada malam sebelumnya. Lebih parah lagi, surat registrasi kendaraannya ternyata sudah dicabut sejak Maret 2026 akibat tunggakan denda yang tidak dibayar.
Lisensi P1 di Australia memang melarang pemegangnya melaju di atas 90 km/jam. Namun, pelanggaran remaja ini jauh melampaui batas tersebut, bahkan melebihi batas kecepatan maksimum untuk pengemudi reguler sekalipun.
Polisi menjeratnya dengan dua pasal utama: mengemudi dengan kecepatan berbahaya melebihi 45 km/jam dari batas maksimal, dan menggunakan kendaraan bermotor tidak terdaftar. SIM-nya langsung disita dan diskors, sementara ia dijadwalkan menghadiri sidang di Pengadilan Lokal Penrith.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa alasan kreatif takkan menyelamatkan pelanggar lalu lintas—apalagi jika data pabrikan dan bukti forensik berkata sebaliknya. Bagi pemegang lisensi provisional, konsekuensi ngebut bukan sekadar denda, melainkan catatan kriminal yang bisa menghantui masa depan.