SULAWESI TENGGARA — Trofi individu paling bergengsi setelah Bola Emas ini selalu menyedot perhatian. Di edisi 2022, Kylian Mbappe keluar sebagai yang tersubur, menyusul jejak para legenda dari Guillermo Stabile hingga Harry Kane. Namun, Piala Dunia juga punya kenangan manis bagi pemain yang tidak diunggulkan.
Deretan bomber top dunia dipastikan menjadi ancaman utama. Kylian Mbappe, top skor di Qatar 2022, jelas ingin mempertahankan mahkotanya. Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, meski usia tak lagi muda, tetap punya naluri gol tajam.
Harry Kane dan Erling Haaland juga masuk daftar unggulan. Keduanya memiliki rekam jejak konsisten mencetak gol di level klub dan internasional. Statistik membuktikan, nama-nama ini selalu muncul di papan atas daftar pencetak gol terbanyak setiap turnamen besar.
Sejarah Piala Dunia mencatat, gelar top skor tidak selalu milik pemain bintang. Salvatore Schillaci di Italia 1990 adalah contoh paling ikonik. Striker Italia itu tiba-tiba meledak dan merebut Sepatu Emas di turnamen yang digelar di negaranya sendiri.
Empat tahun berselang, Oleg Salenko dari Rusia berbagi penghargaan dengan Hristo Stoichkov. Nama Salenko bahkan tidak masuk dalam radar sebelum turnamen. Ia hanya butuh satu pertandingan fenomenal untuk mencetak rekor.
"Para kuda hitam memiliki peluang untuk memanfaatkan momen ini demi meningkatkan reputasi," demikian catatan dalam ringkasan yang beredar. Kejutan seperti ini yang membuat Piala Dunia selalu menarik dinantikan.
Membawa pulang Sepatu Emas bukan sekadar kebanggaan pribadi. Prestasi ini kerap menjadi tiket emas untuk perbaikan karier di level klub. Nilai pasar pemain melesat, tawaran kontrak baru berdatangan, dan status mereka naik kelas menjadi superstar global.
Bagi para kuda hitam, performa tajam di Piala Dunia 2026 bisa menjadi batu loncatan ke klub-klub besar Eropa. Panggung internasional di tiga negara tuan rumah ini adalah etalase paling sempurna untuk menunjukkan ketajaman di depan gawang.