Prabowo Kritik Budaya Bicara Manis di Depan, Serukan Kejujuran Hadapi Persoalan Bangsa

Penulis: Vicky Prasetya  •  Selasa, 23 Juni 2026 | 17:25:01 WIB
Prabowo menyerukan kejujuran dalam menghadapi persoalan bangsa di hadapan keluarga besar NU.

SULAWESI TENGGARA — Prabowo menilai budaya diplomatis yang berlebihan justru menjadi penghalang penyelesaian masalah-masalah mendasar di negeri ini. Ia menegaskan, sudah saatnya bangsa Indonesia berani berkata apa adanya tanpa perlu menyembunyikan kenyataan di balik kata-kata manis.

Penyimpangan yang Dibiar Berlalu

Dalam pidatonya, Presiden mengungkapkan temuan mengejutkan setelah memimpin langsung pemerintahan dan mengakses data serta fakta terkini. "Bahwa setelah sekian puluh tahun kita merdeka, apalagi sesudah saya menjadi Presiden, saya melihat data-data, fakta-fakta, saya merasa bahwa sesungguhnya banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang kita... yang kita membiarkan," ujar Prabowo.

Pernyataan itu langsung menuai perhatian peserta yang hadir. Prabowo tampak memanfaatkan momen di hadapan keluarga besar NU untuk menyampaikan pesan yang jarang diucapkan di forum-forum resmi pemerintahan.

Kelakar soal BBM dan Tepuk Tangan Meriah

Presiden juga menyelipkan kelakar terkait sambutan meriah yang diterima Menteri Investasi Bahlil Lahadalia saat tampil di forum yang sama. "Gara-gara BBM nggak naik?" seloroh Prabowo yang disambut tawa hadirin. Kelakar ini merujuk pada kebijakan pemerintah yang mempertahankan harga bahan bakar minyak di tengah tekanan global.

Momen tersebut menunjukkan kedekatan Prabowo dengan para kiai dan pengurus NU. Ia mengaku merasa nyaman dan aman berada di tengah keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Seruan Evaluasi Diri di Forum Ulama

Prabowo secara spesifik meminta forum ulama untuk tidak segan mengkritik kebijakan pemerintah jika ditemukan kejanggalan. "Kita tidak perlu pura-pura, kita tidak perlu bicara manis-manis karena itu memang sering bangsa Indonesia suka bicara yang manis-manis di depan. Kita kadang-kadang tidak mau bicara apa adanya, tapi saya kira sudah saatnya kita bicara apa adanya," tegasnya.

Pidato ini menjadi penutup rangkaian acara yang berlangsung selama beberapa hari di Bangkalan. Kehadiran Presiden di tengah forum ulama NU dinilai sebagai sinyal penguatan hubungan eksekutif dengan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Belum ada tanggapan resmi dari pengurus PBNU terkait pernyataan Presiden tersebut. Namun sejumlah kiai yang hadir menyambut positif seruan keterbukaan yang disampaikan Prabowo.

Reporter: Vicky Prasetya
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top