SULAWESI TENGGARA — Keputusan ini menyusul peresmian pabrik BYD di Subang yang dilakukan pekan lalu. Pabrik yang dikelola BYD Auto Indonesia itu kini sudah merakit lokal Atto 1 dan M6 DM, dengan tambahan model M6 EV serta Denza D9 menyusul di tahun ini.
Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan pasokan impor untuk model yang tak dirakit lokal tidak akan ditambah. "Ya, mungkin dalam prosesnya bisa habis, tapi sepertinya sudah tidak banyak sekali ya. Sudah sangat sedikit, ya. Ya itulah komitmen," ujarnya usai peresmian pabrik di Subang, Kamis (3/9).
Meski impor dihentikan, situs resmi BYD Indonesia masih menampilkan empat model yang tak masuk daftar produksi lokal. Keempatnya adalah Atto 3, Dolphin, Seal, dan Sealion 7.
Luther menjelaskan, sisa unit keempat model itu masih tersedia di dealer, namun jumlahnya tinggal sedikit. Konsumen yang berminat pada model-model tersebut disarankan segera menghubungi dealer resmi untuk mengecek ketersediaan stok.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat aktivitas impor BYD tahun ini berkurang drastis. Pada 2025, BYD mengimpor sekitar 74.500 unit yang mencakup Atto 1, Atto 3, Dolphin, M6, E6, Seal, Sealion 7, dan Denza D9.
Memasuki Januari–Juli 2026, total impor hanya tercatat sekitar 3.500 unit untuk tiga model saja, yakni Seal, Atto 3, dan D9. Bahkan pada Juli, aktivitas impor Seal dan Atto 3 tidak terlihat sama sekali, sementara D9 masih tercatat 159 unit.
Penghentian impor ini sejalan dengan kewajiban BYD Auto Indonesia sebagai peserta insentif impor CBU yang digelar pemerintah pada 2024–2025. Perusahaan memiliki komitmen memproduksi sekitar 92.000 mobil di pabrik Subang hingga Desember 2027.
Pabrik yang memiliki kapasitas maksimal 150.000 unit per tahun ini menjadi pusat produksi BYD untuk pasar Indonesia. Dengan fokus penuh pada rakitan lokal, model impor yang tersisa akan dibiarkan habis terjual di dealer tanpa ada pengiriman tambahan.