JAKARTA — Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, mengingatkan tentang bahaya "runtuhnya otoritas kepakaran" yang kini menjadi kenyataan pahit di ruang publik. Pengetahuan yang lahir dari riset bertahun-tahun dan integritas metodologis dinilai kehilangan bobot saat berhadapan dengan narasi dangkal bernuansa sensasionalisme di media sosial.
Menurut Teguh, masyarakat kini lebih bergantung pada analisis dari individu yang berlindung di balik label "pembuat konten", namun tidak memiliki rekam jejak keilmuan yang memadai. Panggung diskursus publik, ujarnya, dibajak oleh figur yang fasih di depan kamera tetapi miskin pemahaman substantif.
Kondisi ini diperparah oleh motif ekonomi yang telanjang. Teguh menegaskan bahwa motivasi utama sebagian besar produksi konten bukan lagi mencerdaskan publik, melainkan mengejar metrik keterlibatan dan mengeruk keuntungan finansial melalui monetisasi algoritma.
Ia mengutip Shoshana Zuboff dalam buku "The Age of Surveillance Capitalism" yang mencatat bahwa perhatian manusia telah menjadi komoditas utama yang dieksploitasi tanpa memedulikan dampak etis. Sebagian narasi bahkan sengaja dipelintir untuk memantik kemarahan, meruncingkan polarisasi, dan mengorbankan kohesi sosial demi menjaga percakapan tetap panas.
Teguh menyayangkan praktik sebagian wartawan yang kini terjebak mengonsumsi informasi mentah dari kreator konten media sosial. Tekanan tenggat waktu di era digital kerap membuat awak redaksi melonggarkan filter verifikasi yang menjadi nyawa profesi jurnalistik.
"Tindakan mengutip opini kreator konten sebagai fakta rujukan adalah kemunduran fatal dalam metodologi jurnalistik," kata Teguh. Praktik instan ini mereduksi jurnalisme investigatif menjadi sekadar daur ulang kebisingan dunia maya, sekaligus melegitimasi ilusi simulasi sebagaimana dikhawatirkan Jean Baudrillard dalam "Simulacres et Simulation".
Bagi masyarakat awam, situasi ini melahirkan ilusi pemahaman. Ketergantungan pada penjelasan simplistis ala kreator konten membuat publik merasa paham persoalan rumit hanya lewat ringkasan pendek, sehingga menghancurkan apresiasi terhadap proses ilmiah yang teliti.
Algoritma platform digital bekerja dengan logika bias konfirmasi, di mana audiens hanya dijejali konten yang mengonfirmasi prasangka mereka. Ketika kebenaran ditentukan oleh jumlah tanda suka, maka sains dan keahlian profesi akan selalu kalah pamor dibandingkan drama yang dirancang algoritmis.
Teguh menegaskan bahwa Denis McQuail dalam "McQuail's Mass Communication Theory" telah mengingatkan fungsi esensial pers adalah menjaga akuntabilitas informasi publik melalui independensi, akurasi, dan tanggung jawab sosial. Mengorbankan metodologi demi mengekor tren viral berarti meruntuhkan fondasi legitimasi pers di mata publik.
"Pers tidak boleh menyerah dan larut dalam ekosistem yang manipulatif ini," tegasnya. Jurnalis harus kembali menjalankan fungsi konfirmasi dan disiplin verifikasi agar jurang antara karya pers dan celoteh liar di linimasa tidak hilang sama sekali.